Friday, February 11, 2011

Harga BBM Sebenarnya Bisa Murah

Pemerintah akan mengurangi subsidi BBM dengan melarang mobil pribadi menggunakan BBM bersubsidi. Kebijakan tersebut akan secara bertahap dimulai bulan Maret 2011 di Jabodetabek hingga mencakup seluruh Indonesia pada 2013.

Alasan klasik yang diungkapkan Pemerintah dalam melakukan pembatasan BBM bersubsidi ini adalah untuk mengurangi Beban APBN. Menurut Pemerintah, pada tahun 2011 saja dana yang dapat dihemat dari kebijakan tersebut sebesar Rp 3,8 triliun.

Alasan tersebut sebenarnya merupakan kebohongan publik yang terus-menerus dilakukan. Faktanya, berdasarkan data Kementerian Keuangan, realisasi belanja APBN 2010 baru mencapai 56,01 persen dari pagu anggaran APBN-P 2010 sebesar Rp 993,136 triliun atau sekitar Rp 556,285 triliun per 22 November 2010. Artinya, sampai November 2010 masih ada dana yang belum terserap sebanyak 437 T, sementara penghematan subsidi hanya Rp 3,8 T. Itu pun akan berkurang menjadi 3,2 T karena pembatasan BBM bersubsidi di undur Maret 2011. Jelas sangat ironis?

Oleh karena itu, alasan sebenarnya dari pembatasan BBM bersubsidi adalah karena pengelolaan BBM menggunakan paradigma Kapitalisme dan untuk memenuhi kepentingan para kapitalis.

BBM Milik Rakyat

Dalam pandangan Islam, BBM dan Gas serta sumber energi lainnya merupakan milik umum atau milik rakyat yang wajib dikelola oleh Negara. Rasulullah saw. telah menjelaskan sifat kebutuhan umum tersebut dalam sebuah hadis. Dari Ibnu Abbas, bahwa Nabi saw. pernah bersabda:

اَلنَّاسُ شُرَكَاءٌ فِي ثَلاَثٍ: اَلْمَاءِ وَ الْكَلأِ وَ النَّارِ

Manusia berserikat (punya andil) dalam tiga hal: air, padang rumput dan api (HR Abu Dawud).

Anas ra. juga meriwayatkan hadis dari Ibnu Abbas ra. tersebut dengan menambahkan: wa tsamanuhu haram (dan harganya haram); yang berarti dilarang untuk diperjualbelikan.

Barang-barang tambang seperti minyak bumi besarta turunannya seperti bensin, gas, dan lain-lain (termasuk juga listrik, hutan, air, padang rumput, api, jalan umum, sungai, dan laut) semuanya telah ditetapkan syariah sebagai kepemilikan umum. Negara mengatur produksi dan distribusi aset-aset tersebut untuk rakyat. Pengelolaan kepemilikan umum oleh Negara dapat dilakukan dengan dua cara:

1. Pemanfaatan secara langsung oleh masyarakat umum.

Air, padang rumput, api, jalan umum, laut, samudera, sungai besar, adalah benda-benda yang bisa dimanfaatkan secara langsung oleh setiap individu. Siapa saja dapat mengambil air dari sumur, mengalirkan air sungai untuk pengairan pertanian, juga menggembalakan hewan ternaknya di padang rumput milik umum. Dalam konteks ini negara tetap mengawasi pemanfaatan milik umum ini agar tidak menimbulkan kemadaratan bagi masyarakat.

2. Pemanfaatan di bawah pengelolaan Negara.

Kekayaan milik umum yang tidak dapat dengan mudah dimanfaatkan secara langsung oleh setiap individu masyarakat—karena membutuhkan keahlian, teknologi tinggi, serta biaya yang besar—seperti minyak bumi, gas alam, dan barang tambang lainnya, maka negaralah yang berhak untuk mengelola dan mengeksplorasi bahan tersebut. Hasilnya dimasukkan ke dalam Kas Negara (Baitul Mal). Khalifah adalah pihak yang berwenang dalam pendistribusian hasil tambang dan pendapatannya sesuai dengan ijtihadnya demi kemashlahatan umat.

Dalam mengelola kepemilikan tersebut, negara tidak boleh menjualnya kepada rakyat—untuk konsumsi rumah tangga—dengan mendasarkan pada asas mencari keuntungan semata. Harga jual kepada rakyat hanya sebatas harga produksi. Namun, boleh menjualnya dengan mendapatkan keuntungan yang wajar darinya jika dijual untuk keperluan produksi komersial.

Adapun jika kepemilikan umum tersebut dijual kepada pihak luar negeri, maka boleh pemerintah mencari keuntungan semaksimal mungkin. Hasil keuntungan penjualan kepada rakyat untuk kepentingan produksi komersial dan ekspor ke luar negeri digunakan: Pertama, dibelanjakan untuk segala keperluan yang berkenaan dengan kegiatan operasional badan negara yang ditunjuk untuk mengelola harta pemilikan umum, baik dari segi administrasi, perencanaan, eksplorasi, eksploitasi, produksi, pemasaran dan distribusi. Kedua, dibagikan kepada kaum Muslim atau seluruh rakyat. Dalam hal ini Pemerintah boleh membagikan air minum, listrik, gas, minyak tanah dan barang lain untuk keperluan rumah tangga atau pasar-pasar secara gratis atau menjualnya dengan semurah-murahnya, atau dengan harga wajar yang tidak memberatkan. Barang-barang tambang yang tidak dikonsumsi rakyat, misalnya emas, perak, tembaga, batubara dapat dijual ke luar negeri dan keuntungannya—termasuk keuntungan pemasaran dalam negeri—dibagi keseluruh rakyat, dalam bentuk uang, barang, atau untuk membangun sekolah-sekolah gratis, rumah-rumah sakit gratis, dan pelayanan umum lainnya.

Mewujudkan BBM Murah

Bahan Bakar menjadi mahal sebenarnya bersumber dari kekeliruan dalam kebijakan politik APBN dan carut-marutnya pengelolan Migas saat ini. Kebijakan APBN selama ini selalu menganggap subsidi BBM sebagai beban. Padahal sebenarnya istilah tersebut tidak tepat karena itu adalah kewajiban negara dalam menjalankan fungsinya, Justru yang selama ini menjadi beban APBN adalah Bunga Utang Luar Negeri dan Pokoknya. Hampir setiap tahun APBN kita digerogoti oleh Bunga dan Utang Luar Negeri (rata-rata di atas 25 %; lihat tabel 1). Sebagian besar utang tersebut dinikmati para kapitalis melalui dana rekapitulasi perbankan dan para koruptor (30 % dana utang luar negeri dikorupsi). Adapun dana subsidi hanya kurang dari 15% dan itu pun untuk seluruh rakyat Indonesia.

Adapun karut-marutnya pengelolaan BBM akibat liberalisasi Migas telah menyebabkan Sumber Migas saat ini hampir 90% dikuasai Asing dan Mafia Rente yang mengambil untung dalam pengelolaan dan distribusi BBM. Menurut sejumlah sumber termasuk temuan BPK tahun 20081 disebutkan sumber inefisiensi Pertamina antara lain: (a) pengadaan minyak mentah dan BBM yang tidak efisien. Hal ini karena Pertamina cenderung mengimpor minyak mentah dan BBM melalui jasa rekanan yang sarat dengan manipulasi tender oleh pihak Pertamina dengan para trader sehingga biaya pengadaan minyak impor semakin mahal bahkan sejumlah pengadaan melalui penunjukan langsung biayanya lebih mahal; (b) Pertamina lebih banyak menggunakan kapal sewa daripada kapal milik sendiri sehingga biaya angkut lebih mahal.

Oleh karena itu, agar BBM murah yang harus dilakukan adalah mengembalikan pengelolaan BBM sesuai dengan syariah melalui kebijakan APBN dan perubahan kebijakan di bidang Migas.

Kebijakan (Politik) APBN

Selama ini pendanaan selalu menjadi alasan minimnya eksplorasi Migas sehingga produksi menurun. Jelas alasan ini tidak benar. Yang sebenarnya adalah masalah prioritas Kebijakan APBN yang salah. Kebijakan APBN seharusnya menjadikan semua pengelolaan Migas dikuasai oleh negara sehingga hasilnya masuk APBN. Di sinilah pentingnya membatalkan UU Migas yang menjadi dasar liberalisasi/swastanisasi Migas.

Masalahnya juga keterbatasan dana, tetapi masalah prioritas yang salah. Mengapa untuk dana rekapitulasi perbankan yang ratusan triliun bisa disediakan, sementara untuk eksplorasi BBM yang menyangkut industri strategis dan kebutuhan publik selalu dibatasi.

Fakta menunjukkan, keterbatasan eksplorasi Migas oleh Pertamina sebenarnya bukan karena faktor dana, tetapi keberpihakan Pemerintah yang salah. Dalam Kasus Blok Cepu yang cadangannya lebih dari 10 miliar barel, secara dana Pertamina siap menyediakan dengan dana investasi dalam negeri. Namun, justru Pemerintah menyerahkan eksplorasi Blok Cepu kepada Perusahaan Amerika, yaitu Exxon Mobile.

Profesionalisme Pengelolaan Migas

Ada 2 hal yang terkait dengan pengelolaan Migas yang menyebabkan harga BBM mahal, yaitu masalah produksi dan distribusi. Masalah produksi sering dikaitkan dengan kemampuan teknologi eksplorasi yang masih belum mampu. Alasan ini juga tidak tepat karena eksplorasi Migas itu ada 2 bentuk: eksplorasi di darat dan di lepas pantai. Untuk eksplorasi di darat Pertamina dengan tenaga-tenaga ahlinya dari dalam negeri sudah mampu mendeteksi dan mengekplorasinya tanpa hambatan. Penemuan cadangan minyak di Blok Cepu adalah tenaga ahli dari Pertamina dan Pertamina menyatakan mampu secara teknologi untuk mengekplorasi-nya tanpa bantuan asing. Namun, karena tekanan Amerika maka dengan begitu mudahnya Blok Cepu tersebut diserahkan kepada Exxon Mobile.

Adapun eksplorasi di lepas pantai (laut). maka menurut BPPT memang saat ini belum mampu dilakukan oleh Pertamina. Namun, yang jadi masalah, mengapa setelah puluhan tahun kok belum mampu? Sebenarnya ketidak-mampuan Pertamina melakukan eksplorasi di laut dalam bukan karena SDM yang tidak mampu. Namun, banyak SDM Indonesia yang bekerja di Perusahaan Asing baik di Indonesia maupun di Luar negeri karena gajinya lebih besar. Misal, ada staf Bakosurtanal yang pernah bekerja di perusahaan marine hidrography untuk memasang oil-rig atau pipeline. Juga ada sebagian SDM Pertamina keluar dan pindah ke Perusahaan Asing seperti Arco yang banyak melakukan eksplorasi di Laut Jawa. Jadi Pernyataan BPPT bahwa Pertamina belum mampu sebenarnya bukan faktor Teknologi dan SDM kita yang tidak mampu, tetapi kebijakan Pertamina atau Pemerintah yang memang tidak pernah serius melakukan itu. Akibatnya, tidak ada upaya transfer teknologi dari perusahaan asing. Padahal selama ini salah satu alasan kerjasama dengan perusahaan asing adalah alih teknologi. Kalaupun saat ini belum mampu sebenarnya Pemerintah (negara) bisa menyewa tenaga ahli di bawah kendali Pemerintah atau Pertamina, bukan menyerahkan eksplorasi tersebut kepada perusahaan asing.

Adapun masalah distribusi seperti temuan BPK, Pertamina lebih banyak menggunakan kapal sewa daripada kapal milik sendiri sehingga biaya angkut lebih mahal, dari 137 Kapal yang dioperasikan Pertamina, 102 di antaranya disewa dari perusahaan lain.2 Yang lebih aneh bahkan cenderung tidak rasional bahkan bodoh adalah kebijakan Pemerintah melakukan Pemecahan Pertamina (unbandling) menjadi perusahaan-perusahaan kecil. Di Industri Hulu dipecah menjadi PT Pertamina, PT Pertamina Hulu Energi, PT Pertamina Geothermal, PT Pertamian Drilling Service dan PT PTC. Industri Hilir adalah PT Limited Petral dan PT Patra Niaga. Padahal unbundling ini akan menambah biaya dan memperpanjang rantai pemasaran sehingga harga akhir menjadi mahal. Apalagi tren perusahaan dunia saat ini adalah merger untuk tujuan efesiensi; misalnya Standar oil of New Jersey dan Anglo-American bergabung menjadi Exxon; Standar Oil of New York dan Vaccum Oil menjadi Mobile. Setelah itu Exxon dan Mobile bergabung menjadi Exxon Mobile.

Penutup

Itulah mekanisme agar BBM murah, yaitu kebijakan APBN yang sesuai syariah serta pengelolaan Pertamina yang professional; bebas dari korupsi dan mafia rente. Kalau BBM dijual kepada rakyat berdasarkan harga pokok maka harganya murah. Berdasarkan data yang diperoleh dari laporan keuangan Pertamina (lihat Tabel 2 diatas), harga pokok produksi BBM sangat rendah yaitu Rp 804 (bahkan bisa lebih rendah dari itu karena biaya cost recovery Pertamina untuk mendapatkan Minyak Mentah lebih tinggi dibandingkan Perusahaan Minyak Lain dan komponen biaya lainnya juga boros). Namun, harganya menjadi mahal ketika Pemerintah menggunakan asumsi harga internasional, misalnya dengan asumsi Harga Minyak Mentah US$ 50 harga pokok BBM menjadi Rp 3.220 dan Rp 5.500 kalau harga minyak mentah internasional US$ 90.

Friday, January 21, 2011

6 Kesombongan RIM (Blackberry) thd Negara Tercinta Indonesia

Tadi malam, penulis melihat tayangan Provocative di Metro TV yang diasuh rapper-presenter, Pandji Pragiwaksono. Nah, sebagaimana banyak ditemukan di banyak medium percakapan saat ini, masyarakat Indonesia tampak masih saja emosional dan reaktif (namun tidak menguasai persoalan) terkait kisruh Menkominfo dan produsen BlackBerry/BB, Reserach in Motion (RIM), asal Waterloo, Kanada.

Sekedar informasi, penulis selain jurnalis desk ICT Bisnis Indonesia sejak tahun 2005, adalah orang yang menulis buku BlackBerry pertama di Indonesia, BlackBerry for everyone (e-tera Mizan, April 2009). Dari interaksi keintiman penulis terhadap liputan terkait perangkat kreasi Mike Lazaridis selama ini, maka penulis menyimpulkan setidaknya ada enam arogansi RIM di Indonesia:

1. RIM terlalu lama mengindahkan hak-hak masyarakat Indonesia terkait regulasi perdagangan dalam negeri, terutama dalam pembuatan pusat layanan (service center). Kementerian Perdagangan mengatur bahwa produsen perangkat elektronik harus menyediakan pusat layanan sedikitnya satu lokasi dalam satu tahun masa operasionalnya.

Dan tahukah Anda? RIM yang pertama kali diperkenalkan di Indonesia sejak September 2004, baru membuka pusat layanannya pada November 2010.Vendor ponsel lainnya di Indonesia yang memiliki pangsa pasar lebih besar dari RIM (market share 2010 versi GFK sebesar 3%), katakanlah Nokia (sekitar 45%) dan Samsung (18%), commited mendirikan layanan purna jualnya tak genap setahun setelah beroperasi di Indonesia.

Mari kita bandingkan jumlah layanan purna jual RIM di Indonesia yang baru satu lokasi (Sunter, Jakarta) padahal sudah hampir enam tahun beroperasi dibandingkan ponsel merek lokal sekelas Nexian yang sudah punya 54 layanan purna jual, dari Aceh hingga Palu, meski baru berumur kurang dari lima tahun.

Jangan bandingkan dengan Nokia yang setidaknya dalam kurun 10 tahun terakhir ini sudah punya pusat layanan di 46 kota utama seluruh Indonesia. Adalah hal yang tidak masuk akal jika perusahaan global seperti RIM seolah kalah tekad melayani masyarakat Indonesia dari perusahaan lokal seperti Nexian -yang selain punya pusat layanan luas, juga punya standar pelayanan maksimal tiga hari.
Itu sebabnya di medio tahun 2004-2010 awal, masyarakat Indonesia sulit luar biasa jika mengalami kerusakan BB meski masih bergaransi. Cerita bahwa barang rusak diperbaiki di Singapura rata-rata tiga bulan untuk perbaikan BlackBerry adalah kenyataan pahit yang harus dirasakan masyarakat Indonesia.
Padahal harga perangkat ini sempat menyentuh Rp9 juta ketika tipe Bold diluncurkan tahun 2009 lalu.
Apakah seperti itu pelayanan yang pantas diberikan vendor global yang mengantarkan pendirinya masuk jajaran rangking 500 orang terkaya dunia versi Forbes pada 2009 lalu? Apa mereka menilai bangsa Indonesia terlalu kecil, aturan lokalnya bisa diremehkan, sehingga tak perlu serius melayani hak masyarakat Indonesia atas layanan purna jual optimal dan menyebar? Lantas, apa RIM tidak malu (atau mungkin terlalu percaya diri) sehingga layanan purna jualnya tersalip oleh layanan purna jual dari ponsel merek lokal pendatang baru seperti Nexian? Sungguh, Indonesia tidak pantas diperlakukan demikian.

2. RIM terlalu lama memandang remeh kemampun ekonomi bangsa ini. Meski sikap mereka saat ini sudah berkebalikan 180 derajat, namun kurun 2004-2009,perusahaan ini cenderung memandang sebelah mata. Mereka tidak membuka perwakilan resmi di Indonesia, hanya menerapkan afiliasi bisnisnya di Indonesia ke kantor perwakilan Asia Tenggara mereka di Singapura. Sikap ini dikarenakan periode awal penjualan BlackBerry tipe awal seperti BB 6280 yang diluncurkan Indosat dan Telkomsel pada akhir 2004, bisa dibilang gagal total. Masyarakat Indonesia, termasuk segmen menengah-atas,tetap melirik Nokia sebagai merek referensi. RIM menilai potensi pasar Indonesia kecil.
Namun cerita berubah setelah demam Facebook melanda Indonesia pada 2008, seketika itu BB mulai dilirik.Apalagi operator Indonesia berani merilis skema tarif pertama di dunia, yakni tarif harian hanya Rp5000. Maka, penjualan BlackBerry pun melesat kencang. Reseller dibuat untung besar oleh perangkat satu ini,sampai muncul anggapan masyarakat urban bahwa hanya ada dua ponsel di dunia, BlackBerry dan non-BlackBerry! RIM kemudian menjilat lidah setelah melihat tren penjualan massif ini. Terbukti saat meluncurkan seri Gemini 8520 pada Juli 2009, Indonesia-lah yang dipilih menjadi negara pertama di dunia dalam peluncuran tersebut. Namun itu pun tetap, saat peluncuran Gemini, masih belum dibarengi dengan layanan purna jual optimal.
Apa pantas bangsa sebesar ini diremehkan, disanjung, dan diremehkan lagi?
Sungguh, Indonesia tidak pantas diperlakukan demikian.

3. RIM terlalu lama menyedot devisa dari masyarakat Indonesia tanpa giveback sepadan! Seperti diketahui bersama, setiap pengguna ditarik fee rata-rata
US$6-7 dollar per bulan (bersih) oleh RIM. Ini adalah benar-benar uang berlanganan,atau kasarnya upah menjaga server milik mereka di dunia. Jika benar akumulasi klaim pengguna BB versi enam operator mitra RIM di Indonesia yang totalnya mencapai 3 juta nomor, maka sedikitnya uang Rp189 miliar per bulan atau Rp2,2 triliun per tahun akan terbang ke Kanada tanpa menetes sedikit pun ke tanah air. Lantas, apa yang berikan kembali?Bisa dibilang sangat sedikit! Memberangkatkan komunitas pengguna ke Wireless Conference di Orlando dan membuka akses ke pengembang aplikasi lokal adalah sebagian dari timbal balik yang diberikan. Umumya, timbal balik hanya dalam bentuk melayani komunitas pengguna,bukan masyarakat Indonesia keseluruhan.
Buktinya, pusat layanan hanya tersedia di Jakarta, bagaimana dengan pengguna BB di Makassar, misalnya. Tentu saja,ini sangat-sangat tidak seimbang. Juga, jangan bayangkan RIM sebagai perusahaan yang mau aktif menerapkan CSR korban bencana di Indonesia-- seperti yang kerap dilakukan perusahaan asing ICT macam Indosat dan XL. Jadi, jika yang bisa dilakukan hanya menyedot triliunan rupiah dari Indonesia tanpa mengembalikan ke rakyat,akankah arogansi khas kapitalisme ini akan terus kita terima? Sungguh, Indonesia tidak pantas diperlakukan demikian.

4. RIM selalu merasa besar kepala dan di atas angin terhadap regulasi di Indonesia.Ini memang ada andil dari kurang tegas dan tidak konsistennya sikap pemerintah dalam menegakkan aturan. Namun tahukah Anda, RIM kerap tidak memenuhi undangan dari pemerintah.Selalu saja ada alasan penanggung jawabnya sedang ada di Singapura/Kanada. Padahal undangan itu terkait nasib bangsa Indonesia,seperti soal collocation server di Indonesia. Lantas, untuk apa membuka kantor perwakilan di Indonesia? Untuk apa hadir namun mengabaikan regulasi setempat--bukankah dimana bumi di pijak,di situ adat dijungjung.Apa karena merasa bagian dari Kanada --yang menurut bocoran diplomatik di Wikileaks, selalu dianggap kawan sejati oleh Amerika Serikat-- maka selalu merasa di atas angin? Sungguh,Indonesia tidak pantas diperlakukan demikian.

5. RIM tidak pernah benar-benar melihat potensi dalam negeri. Apa pasal?
Hingga saat ini,RIM diduga kuat menyimpan data mirroring-nya di Singapura.
Penulis pernah berkunjung langsung ke pusat layanan sewa data duplikasi di negeri jiran tadi,dan mendengar info bahwa miliaran rupiah mereka keluarkan untuk menyewa setiap bulannya. Padahal,layanan serupa di Indonesia sudah hadir lama,mulai dari Jakarta, Surabaya,hingga Batam seperti yang diberikan Omdata, Telkom, dst.Okelah kalo server utama mereka tidak bisa ditempatkan di Indonesia (sebagaimana juga kengototan mereka di negara lain), tapi mengapa duplikasi data cadangan pun masih disimpan di Singapura? Bukankah itu berarti kita kehilangan potensi ekonomi sekaligus transfer ilmu?
Sungguh,Indonesia tidak pantas diperlakukan demikian.

6. RIM tidak menghormati tekad kedaulatan informasi Indonesia. Ini juga bisa dibaca bahwa secara tidak langsung,mereka enggan ikut mendukung upaya Indonesia bersih dari KKN. Mengapa? Dengan menerapkan ekslusif server di Kanada, maka sesungguhnya data sepenting apapun (mudah-mudahan Presiden SBY tidak menggunakan BB) akan bisa dibuka di Kanada. Mereka bisa melihat telanjang bulat informasi di negeri ini. Di sisi lain, dengan cara ini, maka KPK dan PPTAK akan kesulitan membuka percakapan rahasia para koruptor dan berandalan perampok negeri. Demikian pula dengan melenggang bebasnya kaum kriminil lain seperti bandar narkoba, peretas m-banking, yang menggunakan askes ekslusif ini. Bukankah ini yang tidak inginkan, bukankah kita selalu teriak keras soal korupsi dan kejahatan? Lantas,mengapa kita malah menghujat pemerintah yang ingin menegakkan kedaulatan informasi dan menegakkan kehormatan dari ekslusifime borjuis ICT macam RIM ini? Sungguh,Indonesia tidak pantas dipelakukan demikian.

Garuda di dadaku, Garuda kebanggaanku.

Muhammad Sufyan
(Jurnalis Bisnis Indonesia Biro Bandung dan Koordinator Liputan Tabloid Hape Bandung

Tuesday, December 28, 2010

Kenapa Orang Dari Tatar Sunda Tidak Ada yang Jadi Presiden? (Hubungan Sunda-Jawa)

Konon menurut ramalan dari Joyoboyo (raja Kadiri yang memerintah sekitar tahun 1135-1157), bakal pemimpin negeri ini adalah memiliki initial nama “notonegoro” atau “no-to-no-go-ro”, bila diartikan secara sederhana menunjukan bahwa yang bakal menjadi presiden itu “harus” orang Jawa.

Hal ini nampaknya tidak berlebihan bila ternyata yang jadi presiden sebagai pemenang pemilu adalah: “soekarno”, “soeharto” dan “yudoyono”, adapun habibie, gusdur dan megawati, adalah presiden yang dipilih akibat dari peralihan saja.

Namun demikian hampir dari semuanya mereka adalah berasal dari orang Jawa, hal ini tentunya tidak berlebihan karena menurut data statistik pun jumlah penduduk Indonesia itu hampir separuhnya lebih adalah suku Jawa, sehingga peluang / probabilitasnya sangat besar dibandingkan yg lainnya, apalagi sekarang dipilih secara langsung oleh rakyat.

Di balik itu semua, bila melihat kembali ke Sejarah Bangsa nampaknya hampir seluruh Pemimpin Bangsa ini cara kepemimpinannya merujuk kepada falsafah dari Gadjah Mada, yang terkenal dengan “Sumpah Palapa” nya (tahun 1331), dan gaya kepemimpinannya pun nampaknya tidak lebihnya adalah merupakan ‘reinkarnasi’ dari cara kepemimpinan seorang Patih Gadjah Mada.

Bila dilihat secara garis besar, kaidah kepemimpinan Gadjah Mada dapat diklasifikasikan menjadi tiga dimensi, yaitu:Spiritual, Moral, dan Manajerial.

Dimensi Spiritual terdiri dari tiga prinsip, yaitu:

  1. 1. Wijaya: tenang, sabar, bijaksana;
  2. 2. Masihi Samasta Bhuwana: mencintai alam semesta; dan
  3. 3. Prasaja: hidup sederhana.

Dimensi Moral terdiri dari enam prinsip, yaitu:

  1. 4. Mantriwira: berani membela dan menegakkan kebenaran dan keadilan;
  2. 5. SarJawa Upasama: rendah hati;
  3. 6. Tan Satrsna: tidak pilih kasih;
  4. 7. Sumantri: tegas, jujur, bersih, berwibawa;
  5. 8. Sih Samasta Bhuwana: dicintai segenap lapisan masyarakat dan mencintai rakyat;
  6. 9. Nagara Gineng Pratijna: mengutamakan kepentingan negara di atas kepentingan pribadi, golongan, dan keluarga.

Dimensi Manajerial terdiri dari sembilan prinsip, yaitu:

  1. 10. Natangguan: Mendapat dan menjaga kepercayaan dari masyarakat;
  2. 11. Satya Bhakti Prabhu: loyal dan setia kepada nusa dan bangsa;
  3. 12. Wagmiwag: pandai bicara dengan sopan;
  4. 13. Wicaksaneng Naya: pandai diplomasi, strategi, dan siasat;
  5. 14. Dhirotsaha: rajin dan tekun bekerja dan mengabdi untuk kepentingan umum;
  6. 15. Dibyacitta: lapang dada dan bersedia menerima pendapat orang lain;
  7. 16. Nayaken Musuh: menguasai musuh dari dalam dan dari luar;
  8. 17. Ambek Paramartha: pandai menentukan prioritas yang penting;
  9. 18. Waspada Purwartha: selalu waspada dan introspeksi untuk melakukan perbaikan.

Prinsip-prinsip tersebut dijadikan sebagai sumber dari filsafat dan way of life yang diyakininya, dan mencerminkan spiritualitas Jawa yang bersifat holistic spirituality, yang memberikan inspirasi pandangan hidup pada Gadjah Mada.

Kenapa Orang Tatar Sunda Tidak Mau dibilang Jawa ?

Ketika saya bepergian keluar negara dari Indonesia, atau bahkan pergi keluar pulau Jawa seperti ke Bali, Sumatera atau Kalimantan, orang akan memanggil saya sebagai orang Jawa. Itu dikarenakan memiliki KTP Bandung yang memang terletak di Pulau Jawa,

Padahal, bagi masyarakat di pulau Jawa bagian Barat atau lebih dikenal dengan propinsi Jawa Barat, mereka tidak bisa disebut sebagai ‘orang Jawa’ atau berasal dari ‘suku Jawa’. Penduduk di provinsi ini lebih dikenal dengan sebutan ‘orang Sunda’ atau ‘suku Sunda’, sementara daerahnya sering terkenal dengan sebutan ‘Tatar Sunda’, PaSundan, atau ‘Bumi Parahyangan’ dengan Bandung sebagai pusatnya.

Kultur Budaya

Suku Sunda atau masyarakat Sunda merupakan mayoritas penduduk Jawa Barat. Dalam catatan sejarah, pada tahun 1851 suku Sunda sudah merupakan penduduk terbesar di Jawa Barat yang berjumlah 786.000 jiwa. Pada tahun 2008, suku Sunda diperkirakan berjumlah lebih kurang 34 juta jiwa.

Secara fisik sulit dibedakan antara orang Sunda dan orang Jawa yang sama-sama mendiami Pulau Jawa. Perbedaan yang nampak sebagai penduduk Pulau Jawa, akan tampak jelas ditinjau dari segi kebudayaannya, termasuk bahasa, jenis makanan yang disukai dan kesenian yang dimiliki.

Berbeda dengan ‘suku Jawa’ yang mayoritas hidup di daerah Jawa Tengah, Yogyakarta dan Jawa Timur, suku Sunda tidak menggunakan bahasa Jawa tetapi bahasa ‘Sunda’.

Bahasa Jawa dan bahasa Sunda jelas memiliki perbedaan yang signifikan. Selain memang mempunyai perbedaan ejaan, pengucapan dan arti, bahasa Jawa lebih dominant dengan penggunaan vocal ‘O’ diakhir sebuah kata baik itu dalam pemberian nama orang atau nama tempat, seperti Sukarno, Suharto, Yudhoyono, Purwokerto, Solo dan Ponorogo. Sementara bahasa Sunda lebih dominant berakhiran huruf ‘A’ seperti Nana Sutresna, Wiranata, Iskandar Dinata, Purwakarta dan Majalaya.

Bagi masyarakat Indonesia pada umumnya, suku Sunda dikenal sebagai masyarakat yang senang memakan sayuran atau daun-daunan sebagai ‘lalaban’ (sayuran yang dimakan mentah-mentah dengan sambal). Bagi orang Sunda, dedaunan dan sambal merupakan salah satu menu utama setiap makan selain tentunya lauk pauk lain seperti ikan dan daging.

Selain kebudayaan dan makanan, salah satu karakteristik orang Sunda adalah terkenal dengan karakternya yang lembut, tidak ngotot dan tidak keras. Mereka bersikap baik terhadap kaum pendatang atau dalam bahasa Sunda ‘someaah hade ka semah’.

Karena sifat inilah tak heran kalau penetrasi agam Islam ke daerah Sunda ketika pertama kali Islam datang, sangat mudah diterima oleh suku ini. Sebagaimana mayoritas penduduk Indonesia, Islam merupakan agama mayoritas orang Sunda. Yang membedakannya, kelekatan (attachment) orang Sunda terhadap Islam dipandang lebih kuat dibanding dengan orang Jawa pada umumnya. Meskipun tentunya tidak sekuat orang Madura dan Bugis di Makassar.

Karena karakternya yang lembut banyak orang berasumsi bahwa orang Sunda ‘kurang fight’, kurang berambisi dalam menggapai jabatan. Mereka mempunyai sifat ‘mengalah’ daripada harus bersaing dalam memperebutkan suatu jabatan. Tidak heran kalau dalam sejarah Indonesia, kurang sekali tokoh-tokoh Sunda yang menjadi pemimpin di tingkat Nasional dibandingkan dengan Orang Jawa.

Contohnya, tidak ada satupun presiden Indonesia yang berasal dari suku Sunda, bahkan dari sembilan orang wakil presiden yang pernah menjabat sejak zaman Presiden pertama Soekarno sampai sekarang Presiden Yudhoyono, hanya seorang yang berasal dari suku Sunda yaitu Umar Wirahadikusuma yang pernah menjabat sebagai wakil presiden di zaman Presiden Soeharto.

Bila dilihat dari unsur sosial dan budaya seperti tersebut di atas, orang dari tatar Sunda memang tidak sama dengan Jawa, sehingga dengan demikian walaupun tinggal di satu pulau, tetap saja tidak bisa disamakan. Namun nampaknya faktor alam yang “lohjinawi” itulah yang membentuk karakter dan kepribadian seperti itu, sehingga membentuk kultur budaya dan perilaku yang membedakan dengan orang Jawa.

Perang Bubat.

Adalah perang yang kemungkinan pernah terjadi pada masa pemerintahan raja Majapahit, Hayam Wuruk dengan Mahapatih Gadjah Mada. Persitiwa ini melibatkanMahapatih Gadjah Mada dengan Prabu Maharaja Linggabuana dari Kerajaan Sunda diPesanggrahan Bubat pada abad ke-14 di sekitar tahun 1360 M.

Peristiwa Perang Bubat diawali dari niat Prabu Hayam Wuruk yang ingin memperistri putri Dyah Pitaloka Citraresmi dari Negeri Sunda. Konon ketertarikan Hayam Wuruk terhadap putri tersebut karena beredarnya lukisan sang putri di Majapahit; yang dilukis secara diam-diam oleh seorang seniman pada masa itu, bernama Sungging Prabangkara.

Namun catatan sejarah Pajajaran yang ditulis Saleh Danasasmita dan Naskah Perang Bubat yang ditulis Yoseph Iskandar menyebutkan bahwa niat pernikahan itu adalah untuk mempererat tali persaudaraan yang telah lama putus antara Majapahit dan Sunda. Raden Wijaya yang menjadi pendiri kerajaan Majapahit, dianggap keturunan Sunda dari Dyah Lembu Tal dan suaminya yaitu Rakeyan Jayadarma, raja kerajaan Sunda. Hal ini juga tercatat dalam Pustaka Rajyatajya i Bhumi Nusantara parwa II sarga 3. Dalam Babad Tanah Jawi, Raden Wijaya disebut pula dengan nama Jaka Susuruh dari Pajajaran.

Hayam Wuruk memutuskan untuk memperistri Dyah Pitaloka. Atas restu dari keluarga kerajaan, Hayam Wuruk mengirimkan surat kehormatan kepada Maharaja Linggabuana untuk melamarnya. Upacara pernikahan dilangsungkan di Majapahit. Pihak dewan kerajaan Negeri Sunda sendiri sebenarnya keberatan, terutama Mangkubuminya yaitu Hyang Bunisora Suradipati. Ini karena menurut adat yang berlaku di Nusantara pada saat itu, tidak lazim pihak pengantin perempuan datang kepada pihak pengantin lelaki. Selain itu ada dugaan bahwa hal tersebut adalah jebakan diplomatik Majapahit yang saat itu sedang melebarkan kekuasaannya.

Linggabuana memutuskan untuk tetap berangkat ke Majapahit, karena rasa persaudaraan yang sudah ada dari garis leluhur dua negara tersebut. Berangkatlah Linggabuana bersama rombongan Sunda ke Majapahit, dan diterima serta ditempatkan di Pesanggrahan Bubat.

Melihat Raja Sunda datang ke Bubat beserta permaisuri dan putri Dyah Pitaloka dengan diiringi sedikit prajurit, maka timbul niat lain dari Mahapatih Gadjah Mada yaitu untuk menguasai Kerajaan Sunda, sebab untuk memenuhi Sumpah Palapa yang dibuatnya tersebut, maka dari seluruh kerajaan di Nusantara yang sudah ditaklukkan hanya kerajaan Sundalah yang belum dikuasai Majapahit. Dengan makksud tersebut dibuatlah alasan oleh Gadjah Mada yang menganggap bahwa kedatangan rombongan Sunda di Pesanggrahan Bubat sebagai bentuk penyerahan diri Kerajaan Sunda kepada Majapahit, sesuai dengan Sumpah Palapa yang pernah ia ucapkan pada masa sebelum Hayam Wuruk naik tahta. Ia mendesak Hayam Wuruk untuk menerima Dyah Pitaloka bukan sebagai pengantin, tetapi sebagai tanda takluk Negeri Sunda dan mengakui superioritas Majapahit atas Sunda di Nusantara. Hayam Wuruk sendiri menurut Kidung Sundayana disebutkan bimbang atas permasalah tersebut, karena Gadjah Mada adalah Mahapatih yang diandalkan Majapahit pada saat itu.

Kemudian terjadi insiden perselisihan antara utusan Linggabuana dengan Gadjah Mada. Perselisihan ini diakhiri dengan dimaki-makinya Gadjah Mada oleh utusan Negeri Sunda yang terkejut bahwa kedatangan mereka hanya untuk memberikan tanda takluk dan mengakui superioritas Majapahit, bukan karena undangan sebelumnya. Namun Gadjah Mada tetap dalam posisi semula.

Belum lagi Hayam Wuruk memberikan putusannya, Gadjah Mada sudah mengerahkan pasukannya (Bhayangkara) ke Pesanggrahan Bubat dan mengancam Linggabuana untuk mengakui superioritas Majapahit. Demi mempertahankan kehormatan sebagai ksatria Sunda, Linggabuana menolak tekanan itu. Terjadilah peperangan yang tidak seimbang antara Gadjah Mada dengan pasukannya yang berjumlah besar, melawan Linggabuana dengan pasukan pengawal kerajaan (Balamati) yang berjumlah kecil serta para pejabat dan menteri kerajaan yang ikut dalam kunjungan itu. Peristiwa itu berakhir dengan gugurnya Linggabuana, para menteri dan pejabat kerajaan Sunda, serta putri Dyah Pitaloka.

Hayam Wuruk menyesalkan tindakan ini dan mengirimkan utusan (darmadyaksa) dari Bali – yang saat itu berada di Majapahit untuk menyaksikan pernikahan antara Hayam Wuruk dan Dyah Pitaloka – untuk menyampaikan permohonan maaf kepada Mangkubumi Hyang Bunisora Suradipati yang menjadi pejabat sementara raja Negeri Sunda, serta menyampaikan bahwa semua peristiwa ini akan dimuat dalam Kidung Sunda atau Kidung Sundayana (di Bali dikenal sebagai Geguritan Sunda) agar diambil hikmahnya.

Akibat peristiwa Bubat ini, dikatakan dalam catatan tersebut bahwa hubungan Hayam Wuruk dengan Gadjah Mada menjadi renggang. Gadjah Mada sendiri tetap menjabat Mahapatih sampai wafatnya (1364). Akibat peristiwa ini pula, di kalangan kerabat Negeri Sunda diberlakukan peraturan esti larangan ti kaluaran, yang isinya diantaranya tidak boleh menikah dari luar lingkungan kerabat Sunda, atau sebagian lagi mengatakan tidak boleh menikah dengan pihak timur negeri Sunda (Majapahit).

Dengan demikian nampaknya kejadian seperti tersebut di atas telah membuat orang dari tatar Sunda, tidak menerima kebijakan politik dari Gadjah Mada tersebut, walau tujuannya untuk mempersatukan kerajaan-kerajaan di Nusantara itu, namun caranya seperti itu ‘tidak elegant’ dan telah melukai harkat martabat dan harga diri orang Sunda, sehingga sampai kini di wilayah tatar Sunda itu tidak ada nama Jalan Gadjah Mada atau Hayam Wuruk.

Nah…., bila kembali kepada pertanyaan di atas:”Kenapa Orang Dari Tatar Sunda Tidak Ada yang Jadi Presiden?“ nampaknya memang kalau mau jadi Pemimpin Negeri di negeri ini, harus berani seperti Gadjah Mada tersebut, sehingga wajar saja saat ini Partai-Partai / Golongan Politik itu tidak lebihnya seperti “reinkarnasi” dari jaman kerajaan Majapahit,kawan dapat menjadi lawan demi kekuasaaan !

Namun bukan berarti orang Sunda itu tidak bisa jadi pemimpin, akan tetapi kebanyakan dari mereka tidak bisa menerima norma-norma bila harus seperti Gadjah Mada itu yang cenderung ‘licik’ dan ‘menghalalkan segala cara’ demi kekuasan. Hal itulah rupanya yang membuat orang dari tatar Sunda tidak tertarik untuk menjadi pemimpin di negeri ini karena tidak sesuai dengan tabiat dan norma-norma kehidupannya.

Adapun selama ini orang dari tatar Sunda itu cocoknya hanya jadi pemimpin untuk di daerahnya sendiri, walau sebenarnya menurut sejarah tersebut di atas, kerjaan Sunda Padjadjaran adalah Kerajaan Besar yang memliki ‘Komara’ dan‘Wibawa’ dan satu-satunya kerajaan yang tidak terkalahkan oleh Majapahit !

Akan tetapi rupanya hal itu pada saat ini sudah tidak menjadi keharusan lagi, karena sekarang Partai Politiklah yang menentukan untuk menjadi Pemimpin itu, sebagai salah satu contohnya di Kab.Sumedang, yang konon adalah merupakan cikal bakal kerajaan Sunda Padjadjaran, kini malah menjadi satu-satunya daerah di Jawa Barat yang ‘radja’ nya bukan lagi orang dari daerah tempatan. Hal ini nampaknya pengaruh unsur poltik lebih dominan dalam kehidupan masyarakatnya sehingga norma-norma Budaya Sunda itu terkalahkan oleh kepentingan politik dan kekuasaan.

Namun bagaimanapun seharusnya “Bangsa yang baik itu adalah bangsa yang menghargai Sejarah dan Budayanya”, sehingga dengan demikian nilai-nilai luhur kultur budaya tersebut tidak hilang ditelan jaman, dan tentunya hal itu tidak bisa hanya dijadikan selogan “nyandang kahayang” namun harus dapat diwujudkannya menjadi kenyataan, sehingga“dina budaya urang napak, tina budaya urang ngapak” dapat tercapai !

Semoga hal ini dapat menjadi pemacu semangat generasi muda selanjutnya untuk “BANGKIT” kembali dan tidak terbuai oleh jebakan politik yang cenderung menghalalkan segala cara. SEMOGA…!

Ditulis oleh Urang Wado, (Ir.H.Surahman,M.Tech,M.Eng,MBA)

Wednesday, December 22, 2010

Tips dan Trik jika Flash Disk bermasalah

Blokir copy data dari komputer ke flashdisk atau usbdisk

Cara mengamankan data dikomputer anda supaya tidak bisa dicopy ke flashdisk lakukan langkah sebagai berikut

1. open REGEDIT
2. HKEY_LOCALMACHINE\SYSTEM\CurrentControlSet\Control

3. Di folder CONTROL, ketik -> Edit>New>Key
folder baru tersebut beri nama —-> “StorageDevicePolicies”

4. “StorageDevicePolicies”, ketik Edit>New>Dword (32-bit)

5. key yang baru beri nama : “WriteProtect”

6. Klik 2x Key WriteProtect-nya, lalu ganti Value Data jadi 1

7. Restart

Untuk membuka proteksi agar data bisa dicopy ke flashdisk dengan mengganti value di key write protect menjadi 1

sumber :http://goo.gl/yzUxb

UPDATE
Bagaimana membuka Flash Disk yang Terkena Write Protected : .........

Masalah ini muncul karena flash disk langsung dicabut tanpa "savely removed hardware". Untuk mengatasinya ada beberapa cara, yang bisa berhasil untuk masing2 kasus (tidak untuk setiap kasus). Gak ada salahnya untuk mencoba :

Cara 1.

- Start > Run > type ‘regedit’ then hit 'OK'.
- Browse to the following key:
My Computer\HKEY_LOCAL_MACHINE\SYSTEM\CurrentControlS et\Control\StorageDevicePolicies
- Double click on the string ‘WriteProtect’ and change the ‘Value Data’ box to ‘0’
- You may also need to do this for the strings in any folders called ‘ControlSet***’ e.g.
My Computer\HKEY_LOCAL_MACHINE\SYSTEM\ControlSet001\C ontrol\StorageDevicePolicies

Cara 2.
I am running Windows XP Service Pack 2, so this description applies only in that environment.
Centon's tech support suggested doing the following...
Start->Settings->Control Panel
Administrative Tools
Computer Management
Under Storage in the left panel, click on Disk Management, wait a minute for Windows to do whatever it is doing,......
Locate the data stick/thumb drive/whatever-you-want-to-call it, in the right top windowand click on it.
Right click
in the popup, click on "Delete Partition" -- make darn sure you are doing this to the RIGHT drive!!!!!
Right click again, and choose "Create Partition" (or was it format, I forget maybe it was both).

Cara 3.
Pakai Rapair Utility dari si pembuat flashdisk. Dibawah ini ada link dari HP dan apacer yang banyak dipakai dan berhasil juga untuk berbagai merk.
Di sini :
Apacer : Handy Steno 2.0 Repair Tools
HP : HP Tools

Cara 4.
Perbaiki melalui Linux.. Tutorial langkah2 bisa dibaca disini (maaf panjang banget soalnya). dan mungkin membutuhkan pemahaman tentang perintah2 linux.
Link : linux-tip-resurrecting-broken-usb

Cara 5.
Pakai application OnBelay, disini : Powerful solution for Data Backup, Data Recovery & Formatting for Flash Media

Friday, November 26, 2010

Bandwidth Blackberry itu mahal dan pelit(Alasan saya tidak suka BB)

Blackberry... merk smartphone yang saat ini digilai semua orang dan sudah menjadi e-life style.. hari gini gak punya BeBe? Payah lw...Kuno lw... malah ada yang bilang gw GAPTEK gara-gara gak punya si Bebeh... Emang apa sih kehebatan si Bebeh ini? Kalo menurut sudut pandang saya yang dibilang GAPTEK karena gak punya si Bebeh.. gw gak ngerti kenapa orang-orang pada kepengen punya BB..kalo gw tinjau dari sudut teknologi BB biasa aja tuh.. gak lebih baik dari HP lain oh iya keunggulan BB adalah katanya dukungan aplikasi, Push Mail, dan BBM yang bisa tukeran PIN gitu loch biar gaol dan eksklusif...gw perhatikan akhir-akhir ini makin banyak aja muncul smart phone lain yang lebih advance OS Mobile menurut gw.. ada Windows Mobile yang sekarang udah masuk Versi 7.. nah kalo ini berasa punya komputer genggam.. pada tau lah kebanyakan orang kan PC/Laptop nya pasti pake Windows.. jadi bayangin aja Windows dalam genggaman.. lalu adalagi iPhone yang kaya fitur Multimedia dan menurut gw kalo mau gengsi..lebih tinggi gengsinya kalo pake iPhone coz harganya mahal dan terkesan ekslusif..masih bisa push mail juga kok si iPhone ini...lalu ada Google Android..nah kalo ini HP idola gw... ini HP bener dah mantap..cocok buat orang-orang yang suka ngoprek kayak gw... bisa pushmail juga dan terintegrasi langsung dengan fitur-fitur Google. Seperti Google Search, Gmaps, Gtalk(Eksklusif noh), Gmail... dlll tau lah kehebatan google kayaknya gimana..tak bisa diungkapkan dengan kata-kata(lebay) Pernahkah Google mengecewakan anda?.. kemudian si HP sejuta umat NOKIA juga ga mau kalah ikutan inovasi juga dengan kesetiaannya kepada Symbian dengan meluncurkan Symbian ^8 yang ga kalah keren..ini bisa pushmail juga dan kalo mau eksklusif ada Ovi Contact, malah Nokia 700ribuan sekarang udah bisa pushmail malah.

If you said, it’s BBM, gw juga nggak ngerti apa bedanya BBM sama YM. Bahkan BBM adalah YM yang berbayar, dengan PIN sebagai pengganti Yahoo! Account. Bahkan YM kini sudah terkoneksi dengan Windows Live Messenger alias Hotmail. Jadi apa BBM istimewa? Eksklusif? Nggak, sekarang udah ada Esia Messenger dan Nexian Messenger(Anang – Syahrini) dan Mixcon (huex…) Messenger, Flexi Messenger dan %putyourbrandhere% Messenger.

Battery life dari bebeh yang dulu katanya digadang gadang hebat ternyata juga nggak hebat hebat amat. Bahkan cenderung sama dengan device lain. DIpake intensif, harus 2x charge dalam sehari. Kalo cuma buat push mail, YM dan BBM sih semua device keluaran 2008 keatas juga bisa tahan sehari.

Bandwidth

Lalu ada yang makin gw bingung dari pengguna bebe. Connectivity. Pengguna bebe cuma dapet bandwidth setara (bahkan lebih kecil) daripada GPRS. Kok tahan ya?

Gw dapet kutipan ini dari detikcom

“Telkomsel mengklaim telah memiliki 460 ribu pelanggan dengan bandwidth 300 Mbps. Kemudian disusul XL yang punya 350 ribu pelanggan dengan bandwidth 400 Mbps, dan Indosat dengan 300 ribu pelanggan dan bandwidth 300 Mbps.”

Gw semakin hari semakin kasian sama pelanggan Blackberry. Seperti yang kamu lihat dari kutipan berita diatas, untuk Telkomsel, 460 ~ jadiin 450 dulu, biar gampang ngitungnya ~ 450 ribu pelanggan bebeh, cuma dikasih “jatah” 300Mbps? Dengan “b” kecil ya! Bukan B gede!

Amazing! Setelah gw itung secara sederhana, maka seorang pengguna bebeh Telkomsel hanya mendapat “jatah” sebesar 683bps saja! itu kalau semua pelanggan Blackberry mereka online, push dan nyambung terus! 683bps? oh gooood. Nggak kuat deh gw, miris buanged sih?

Lalu taro’ lah yang nyambung terus nggak megap megap itu ternyata cuma 1/4nya dari angka 45-~460ribu tadi. maka yang didapet per-usernya sekitar 2kbps. Atau… kalo dipake download ya sekitar… 0.3KB/s masih ancur kawan kawan!

wah kalo gw yang make gak kuat deh... secara pemakaian Internet gw kebanyakan buat browsing dan dan downloading... bisa ketinggalan deh gw...

Buat Komparasi Harga Paket layanan Blackberry dengan nyusul ya.. gw mau nyari data akurat berbagai macam paket BIS berbagai operator dan layanan Internet lainnya..

Perbedaan KBps dengan Kbps (Teliti sebelum memilih Promosi Provider Internet)

Internet saat ini sudah bukan lagi hal tabu bagi masyarakat Indonesia, hal tersebut terjadi karena kebutuhan akan Internet semakin tinggi, disertai dengan tarif internet yang semakin hari semakin terjangkau. Banyak provider internet di Indonesia berlomba-lomba menggaet konsumen dengan menawarkan berbagai promo dengan tarif yang menarik serta kecepatan yang dijanjikan. Ada misalnya Provider Internet menawarkan kecepatan download data up to 512 Kbps, Wow !! cepat sekali..... mungkin itu yang terlintas dipemikiran kita sebagai “calon konsumen”. Lalu kita pun beramai-ramai berlangganan paket Internet dari provider tersebut, kalau sebenarnya dipikir-pikir lebih mahal daripada biaya akses Internet di negara maju yang kecepatannya jauh lebih cepat. Kemudian setelah kita berlangganan dan mencoba download menggunakan IDM, browsing, dan mencoba melakukan speedtest ternyata kecepatan yang didapat sangat rendah sekali dan hanya mendapatkan kecepatan download sekitar 64 KBps... mungkin setelahnya kita akan protes dan merasa kecewa karena kecepatan yang didapatkan tidak sesuai dengan yang dijanjikan. Sebenarnya Provider Internet sudah jujur dalam promosinya, hanya saja kita yang tidak teliti dalam melihat promosinya. Liat satuan yang digunakan KBps dengan Kbps.... Hanya beda B saja tapi ternyata membawa perbedaan 8 kali lipat lho.... Ingat gak 1 bit (1 b) dengan 1 byte (1 B) adalah dua hal yang berbeda. Bit adalah ukuran kecepatan transfer data dan byte adalah ukuran data.... Dan 1 byte = 8 bit (1B=8b) (1KB=8Kb)(1KBps=8Kbps).. berdasarkan perhitungan 512 Kbps= 64 KBps hmm berarti no tipu-tipu disini... tapi kembali kecepatan up to itu adalah kecepatan tertinggi menggunakan Internet Download Manager(IDM) yang akan sulit didapat dan tergantung pada traffic internet provider, kondisi jaringan, dan file server download, lebih menderita lagi kalau yang pake sistem quota bandwidth dimana kalo udah download dengan ukuran tertentu kecepatan akan dipotong lagi (biasanya 64 Kbps) wah itung sendiri aja dah kecepatan yang diterima...

Monday, November 01, 2010

Cara memperbaiki Windows XP tanpa instalasi ulang

Berikut tahapan2 sesuai dengan jenis kesalahan.

1. Memperbaiki Instalasi (Repair Install)

Jika Windows XP Anda rusak (corrupted) dimana Anda tidak mempunyai sistem operasi lain untuk booting,
Anda dapat melakukan perbaikan instalasi (Repair Install) yang bekerja sebagaimana setting (pengaturan)
yang awal.

- Pastikan Anda mempunyai kunci (key) Windows XP yang valid.
- Keseluruhan proses akan memakan waktu kurang lebih 1/2 atau 1 jam, tergantung spek komputer Anda.
- Jika Anda dimintai password administrator, sebaiknya Anda memilih opsi perbaikan (repair) yang kedua,
bukan yang pertama.
- Masukkan CD Windows XP Anda dan lakukan booting dari CD tersebut.
- Ketika sudah muncul opsi perbaikan kedua R=Repair, tekan tombol R
Ini akan memulai perbaikan.
- Tekan tombol F8 untuk menyetujui proses selanjutnya "I Agree at the Licensing Agreement"
- Tekan tombol R saat direktori tempat Windows XP Anda terinstal. Biasanya C:\WINDOWS
Selanjutnya akan dilakukan pengecekan drive C: dan mulai menyalin file-file.
Dan secara otomatis restart jika diperlukan. Biarkan CD Anda dalam drivenya.
- Berikutnya Anda akan melihat sebuah gambar "progress bar" yang merupakan bagian dari perbaikan,
dia nampak seperti instalasi XP normal biasanya, meliputi "Collecting Information, Dynamic Update,
Preparing Installation, Installing Windows, Finalizing Installation".
- Ketika ditanya, klik tombol Next
- Ketika ditanya untuk memasukkan kunci, masukkan kunci (key) Windows XP Anda yang valid.
- Normalnya Anda menginginkan tetap berada dalam nama Domain atau Workgroup yang sama.
- Komputer akan restart.
- Kemudian Anda akan mempunyai layar yang sama sebagaimana pengaktifan sistem ketika instalasi normal.
- Register jika Anda menginginkannya (biasanya tidak diperlukan).
- Selesai

Sekarang Anda bisa log in dengan account Anda yang sudah ada.



2. NTOSKRNL Rusak atau Hilang (Missing or Corrupt)

Jika Anda mendapati pesan error bahwa "NTOSKRNL not found" / NTOSKRNL tak ditemukan, lakukan:
- Masukkan CD Windows XP dan booting dari CD tersebut.
- Pada saat muncul opsi R=Repair yang pertama, tekan tombol R.
- Tekan angka sesuai dengan lokasi instalasi Windows yang ingin diperbaiki yang sesuai.
- Biasanya #1
- Pindahlah ke drive CD Drive Anda berada.
- Tulis: CD i386
- Tulis: expand ntkrnlmp.ex_ C:\Windows\System32\ntoskrnl.exe
- Jika Windows XP Anda terinstal di tempat lain, maka ubahlah sesuai dengan lokasinya.
- Keluarkan CD Anda dan ketikkan EXIT


3. HAL.DLL Rusak atau Hilang (Missing or Corrupt)

Jika Anda mendapatkan error berkenaan dengan rusak atau hilangnya file hal.dll, ada kemungkinan
file BOOT.INI mengalami salah konfigurasi (misconfigured).

- Masukkan CD Windows XP dan booting dari CD tersebut.
- Pada saat muncul opsi R=Repair yang pertama, tekan tombol R.
- Tekan angka sesuai dengan lokasi instalasi Windows yang ingin diperbaiki yang sesuai.
- Biasanya #1
- Tulis: bootcfg /list
Menampilkan isi/masukan pada file BOOT.INI saat ini
- Tulis: bootcfg /rebuild
Memperbaiki konfigurasi dari file BOOT.INI
- Keluarkan CD Anda dan ketikkan EXIT


4. Direktori \WINDOWS\SYSTEM32\CONFIG rusak atau hilang

Jika Anda mendapatkan error dengan tulisan:

"Windows could not start because the following files is missing or corrupt
\WINDOWS\SYSTEM32\CONFIG\SYSTEM or \WINDOWS\SYSTEM32\CONFIG\SOFTWARE"

- Masukkan CD Windows XP dan booting dari CD tersebut.
- Pada saat muncul opsi R=Repair yang pertama, tekan tombol R.
- Tekan angka sesuai dengan lokasi instalasi Windows yang ingin diperbaiki yang sesuai.
- Biasanya #1
- Masukkan password administrator jika diperlukan.
- Tulis: cd \windows\system32\config
- Berikutnya tergantung di bagian mana letak terjadinya kerusakan:
- Tulis: ren software software.rusak ATAU ren system system.rusak
- Berikutnya lagi juga tergantung di bagian mana letak terjadinya kerusakan:
- Tulis: copy \windows\repair\system
- Tulis: copy \windows\repair\software
- Keluarkan CD Anda dan ketikkan EXIT


5. NTLDR atau NTDETECT.COM tak ditemukan (NTLDR or NTDETECT.COM Not Found)

Jika Anda mendapati error bahwa NTLDR tak ditemukan saat booting:

a. Untuk partisi tipe FAT
- Silakan Anda melakukan booting dari disket Win98 Anda dan salinlah file NTLDR atau NTDETECT.COM
dari direktori i386 ke drive induk/akar (root) C:\

b. Untuk partisi tipe NTFS
- Masukkan CD Windows XP dan booting dari CD tersebut.
- Pada saat muncul opsi R=Repair yang pertama, tekan tombol R.
- Tekan angka sesuai dengan lokasi instalasi Windows yang ingin diperbaiki yang sesuai.
- Biasanya #1
- Masukkan password administrator jika diperlukan.
- Masukkan perintah berikut, dimana X: adalah alamat drive dari CD ROM Anda (Sesuaikan!).
- Tulis: COPY X:\i386\NTLDR C\:
- Tulis: COPY X:\i386\NTDETECT.COM C:\
- Keluarkan CD Anda dan ketikkan EXIT

Wednesday, October 27, 2010

LAMPU KENDARAAN SEBAGAI BAHASA DI JALANAN

Pada saat kita berkendara masuk di jalan, kita berarti masuk pada satu
kumpulan pengendara yang satu sama lain harus berkomunikasi agar dalam
berintreraksi menggunakan jalan tersebut dapat dipahami secara bersamaan
dengan tujuan dan maksud masing-masing.

Selain untuk komunikasi, lampu juga dimaksudkan sebgai satu alat
keselamatan.

Lampu Kendaraan selain sebagai penerangan, juga berfungsi sebagai
"Bahasa Di Jalan" melalui isyarat dan penggunaannya.

Mengingat merupakan Bahasa, maka dalam komunikasi tentu harus dalam
pengertian bahasa yang sama, yang dipahami semua pihak (pengguna jalan).

Beberapa hal mengenai Penggunaan Lampu Kendaraan :

1. Tinggi Lampu : Berdasarkan peraturan lalu lintas, bahwa paling tinggi
lampu pada suatu kendaraan adalah lk. 1.2 meter dari permukaan tanah.
Jadi untuk lampu-lampu tambahan yang dipasang di atap mobil (seperti
lampu di mobil Offroad, hanya boleh dinyalakan bukan di jalan umum).

2. Lampu Kecil (Lampu Senja) : Istilah Lampu Senja, untuk lampu kecil
hanya ada di kita. Penggunaan lampu senja bukan berarti digunakan saat
Senja hari (jelang Maghrib). Tidak ada pemakaian lampu Senja sambil
kendaran berjalan. Pada saat Senja, bila dirasa kita butuhkan
penerangan, maka gunakan Lampu Besar (Head Lamp).Lampu Senja digunakan
hanya "saat mobil Parkir dipinggir jalan, dimana tidak terdapat lampu
penerangan disekitarnya ". Dan umumnya bersifat parkir sementara (tidak
terlalu lama).Seolah mobil itu kepada pengguna jalan lain berkata :
"hati-hati, aku ada disini, jangan sampai menabraku, aku diam ditempat
gelap"

3. Lampu Hazard : Digunakan hanya saat kendaraan berhenti dalam kondisi
darurat (misalnya mengalami mogok) di tempat yang tidak semestinya
(misalnya di bahu jalan raya, ataupun jalan Tol). Seolah mobil itu
berkata : " hati-hati, aku ada dijalanmu, aku berhenti, aku punya
masalah, butuh bantuan".Kesalahan umum yang sering dilakukan di kita,
menggunakan Lampu Hazard saat Hujan dan saat Masuk Terowongan.Penggunaan
Lampu Hazard saat Hujan atau sambil mobil berjalan, akan membahayakan
pengguna mobil di belakangnya, karena menimbulkan kelelahan mata.

Lampu Hazard tidak untuk digunakan saat mobil berjalan ! Bayangkan kalau
kita gunakan lampu Hazard saat mobil jalan, kita ingin membelok ke kiri
atau ke kanan, lampu mana yang akan kita gunakan sebagai "bahasa isyarat
membeloknya? ".

4. Lampu Besar : Lampu Besar digunakan untuk penerangan kendaraan di
bagian jalan di depan yang akan dilalui.Pada saat memasuki terowongan
sering kita temui perintah " Nyalakan Lampu". Di terowongan, yang
dinyalakan adalah Lampu Besar, tujuannya untuk penerangan dan keamanan
kita saat melaluinya. Jadi waktu masuk terowongan bukan menyalakan Lampu
Hazard atau Lampu Senja, tetapi Lampu Besar.!Bahkan di beberapa mobil
kelas Premium keatas, Lampu Besar ini akan menyala Otomatis saat
memasuki Terowongan, maupun saat senja (mulai gelap).

Untuk keamanan saat Hujan, maka yang digunakan juga Lampu Besar, bukan
Lampu Hazard !

5. Lampu Sein : Ini sudah kita ketahui gunanya, hanya digunakan saat
membelok, atau berpindah jalur.Lampu Sein harus mudah terlihat dari
jauh, oleh karenanya dipilih warna kenuning-kuningan, dimana warna ini
mempunyai panjang gelombang yang cukup panjang, sehingga mudah
tertangkap mata manusia dari jarak jauh.Hal yang salah yang sering
dilakukan oleh pemilik kendaraan, adalah mengganti mika lampunya menjadi
berwarna gelap. Sungguh ini mengundang bahaya untuk dirinya sendiri.!!

Jadi :

1. Tidak menggunakan Lampu Kecil saat senja, nyalakan langsung Lampu
Besar.
2. Saat Hujan, nyalakan Lampu Besar, bukan Lampu Hazard.
3. Saat masuk Terowongan, nyalakan Lampu Besar. Bukan Lampu Hazard.
4. Saat parkir di tempat gelap yang tidak ada penerangan sekitarnya (dan
bersifat sementara), nyalakan lampu kecil (lampu senja).
5. Tidak mengganti warna Lampu Sein dengan warna yang bukan semestinya
(standardnya) ?

Sumber: Dari berbagai macam Sumber