Friday, January 27, 2012
Sejarah Kemerdekaan di Kota Sukabumi
Jalan Bhayangkara adalah tempat tinggalku, dulu namanya jalan Gunung Puyuh dan menurut kisah seorang ibu dari Garut yang pernah bersekolah di Sukabumi pada jaman Belanda nama jalan ini adalah Fogelweg atau jalan burung yang masih bisa ditandai dengan nama nama gang yang ada di sepanjang jalan tersebut adalah nama burung, ditempat lain di Sukabumi nama gang mengambil nama tuan tanah seperti misalnya Gang Adjid, Gang Adiredja; Gang Kartaatmaja; Gang Jayaniti dll, sedang di jalan Gunung Puyuh nama nama gang tersebut mengambil nama burung semisal Gang Kasuari connecting jalan dengan Gang Karimin, , Gang Titiran connecting jalan dengan kampung Kuta, Gang Ketilang yang menghubungkan jalan dengan kampung Rawasalak , Gang Merak yang hubungkan jalan dengan pemakaman Tegalpari dan Gang Gelatik yang hubungkan jalan dengan kampung Sungapan. Tak ada tanggal pasti yang tetapkan kapan Fogelweg berubah jadi jalan Gunung Puyuh, mungkin pada awal pendudukan Jepang saat segala sesuatu yang berbau Belanda diganti dengan bahasa Indonesia. Nama Gunung Puyuh ditetapkan meminjam nama sebuah pesantren besar yang ada di barat daya jalan, salah seorang pengajar di pesantren tersebut adalah Kasman Singadimedja, salah seorang founding fathers republik. Mungkin beliau jugalah yang mengusulkan nama Gunung Puyuh sebagai pengganti Fogelweg. Dalam Ensiklopedia Indonesia entri Kasman Singadimedja Mr. hanya sebutkan beliau sebagai guru pada perguruan Islam di tahun 1939-1941 dan kemudian jadi Daidancho PETA Jakarta . Penggantian nama jalan Gunung Puyuh jadi jalan Bhayangkara bisa dipastikan pada awal tahun 1960an. Secara tersirat HP Jones, bekas duta besar AS di Indonesia, mencatat dalam "Indonesia, The Possible Dreams" peran penting Waperdam/Menlu Subandrio dalam penggantian nama jalan itu.Saat itu nama pesantren kerapdikaitkan dengan gerakan DI - Kartosuwiryo dan nama SPN (Sekolah Polisi Negara) berganti jadi SAKRI (Sekolah Angkatan Kepolisian Republik Indonesia). Saat Jepang menyerang Pearl Harbour pada 7 Desember 1941 dan perang Pasifik pecah, kota Sukabumi jadi tempat pengungsian bagi banyak warga Jakarta (Batavia saat itu). Ironisnya pada sebuah pagi yang cerah setelah malam purnama bulan Safar, Sukabumi mengalami pemboman oleh segerombolan Kobayashi, kapal terbang Jepang dengan tanda bundaran merah di badannya, yang akibatkan kerusakan serius pada beberapa sekolah dan tempat tinggal penduduk. Selama masa pendudukan Jepang tak ada perubahan pada struktur pemerintah kota yang dibuat Belanda kecuali penamaan Jepang pada beberapa bagian dan sebutan Melayu bagi beberapa nama jalan. Pada masa revolusi kemerdekaan kabupaten Sukabumi dan juga kota Sukabumi adalah wilayah terakhir yang bisa dikuasai Belanda lewat Agresi Pertama NICA pada Juli 1947. Akibat dari kebijakan "bumi hangus" yang diterapkan oleh TNI saat mengundurkan diri ke pedalaman, tiga hotel mewah dibakar, sebuah sekolah protestan dan sebuah gudang hasil perkebunan turut hangus dan beberapa rumah warga Cina ikut juga di "bumi hangus"kan . Saat pengakuan kedaulatan Desember 1949, Belanda kembali ke Batavia dan menyerahkan kota ke tangan negara bagian Pasundan, yang kemudian ditolak mentah2 oleh kaum republikein Sukabumi yang menyatakan kesetiaannya kepada 'Republik Jogja' dengan menyebutkan Sukabumi sebagai bagian dari Republik Indonesia.
Berdasarkan Cerita Bapak Iwan Chairul Nasution,
Tuesday, May 24, 2011
Terima Kasih Lonteku
Lonteku terima kasih
Atas pertolonganmu di malam itu
Lonteku dekat padaku
Mari kita lanjutkan cerita hari esok
Walau kita berjalan dalam dunia hitam
Benih cinta tak pandang siapa
Meski semua orang singkirkan kita
Genggam tangan erat erat kita melangkah
Lonteku - Iwan Fals
Pelacur, bisyar, pecun, atau lonte seperti kata Iwan Fals di lirik diatas,adalah warganegara kelas terakhir. Kehadirannya selalu dianggap sebagai sesuatu yang meresahkan. Tidak bermoral, kotor. Dekatkan dengan agama, semua akan beres. Hidup terjepit, antara rasa jijik, dosa, nikmat, dan lapar. Mereka ini unik, dalam beberapa menit kamu bisa memujanya seperti Aprodhite, dan mencibir di menit berikutnya.
Pelacuran di kota Bandung sangat eksis. Dari mulai yang terjun total, ada yang pijit-pijit dulu, bahkan ada yang menyambi sembariil mengerjakan tugas sekolah atau kuliah. Dan tentunya sudah tahu lah nama-nama macam Saritem, Alketeri, ruko-ruko X, spa Y. Dan berikut nocan dan id YM nya. Tapi Pernahkah kita tahu bahwa pelacur-pelacur Bandung ini pernah mencatatkan namanya di sejarah pergerakan bangsa?.
Kupu-kupu malam Bandung konon mulai booming saat pemerintah kolonial membangun jalur kereta yang melewati kota Bandung. Tahun 1881-1884 pemerintah membangun jalur pertama yang melibatkan kota Bandung, yaitu rel jurusan Batavia-Buitenzorg-Bandoeng (Jakarta-Bogor-Bandung). Semenjak itulah stasiun Bandung dan Bandung sendiri, mulai ramai dengan arus migrasi dari daerah lain. Baik yang tinggal permanen maupun hanya singgah untuk berganti kereta.
Golongan migran kedua inilah yang jadi pemicu. Bayangkan, punya duit, sendirian, bengong, ditambah udara Bandung yang dingin-dingin empuk. Nah. Dari kebutuhan gologan inilah kawasan sekitar Stasiun Bandung (Kebonjati) mulai ramai oleh bisnis esek-esek. Tak hanya wilayah ini, wilayah lain seperti Gang Coorde di sekitar Braga (sekarang Jl.Kejaksaan) pun pada perkembangannya mulai bergeliat dengan komoditi mojang-mojang indo nya.
Alkisah di sekitar Kebonjati ada seorang wanita yang menjadi favorit para lelaki hidung belang. Yang kesohorannya konon sudah mencapai daerah luar Bandung. Namanya adalah Nyi Item. Konon kulitnya yang eksotis (kemudian dijadikan nama beken), dan bentuk tubuhnya yang bagaikan dandang (dandang yang seperti jam pasir) membuat banyak pria dari berbagai latar belakang memburu kenikmatan sesaat bersama Nyi Item ini. Dimulai dari Nyi Item inilah dimulai kejayaan kerajaan esek-esek Saritem hingga sekarang.
Meskipun di peraduan Nyi Item dan kawan-kawan adalah primadona dan dipuja, namun dalam kehidupan sosial sehari-hari Nyi Item dan rekan-rekan seprofesinya adalah mereka yang hidup dalam himpitan. Mereka terhimpit oleh apa yang disebut norma, nilai dan ajaran agama. Para pria mencibir di siang hari dan mencari di malam hari. Dan para wanita yang membosankan menyalahkan mereka atas kaburnya para suami. Singkatnya, mereka adalah warga kelas terendah. Jarang ada yang menghargai mereka. Kehidupan mereka menyedihkan, dan dianggap sampah yang tak penting. Bahkan ketika waktu dan zaman sudah berganti.
Sampailah waktu pada sebuah tengah malam di tahun 1926. Seorang berpeci dan berjas rapi mengendap memasuki area merah itu. Tampangnya sih bukan tampang seorang hidung belang. Tapi kita semua tahu, bahwa wajah bisa menipu. Lelaki itu berjalan mengendap, memasuki sebuah kamar. Duapuluh menit berlalu ia keluar. Wah, terlalu cepat untuk ukuran lelaki berusia pertengahan 20. Harusnya 45 menit paling cepat. Dan dua puluh menit bajunya rapi seperti itu?. Lelaki itu berjalan tenang. Tahu diikuti. Tapi ia pun lalu mengayuh cepat sepeda ke arah selatan.
Besoknya di rumahnya. Lelaki itu sedang berdebat dengan Ali Sastroamidjojo. Ali setengah berteriak : "Sungguh Memalukan!," keluhnya. "Kita merendahkan nama dan tujuan kita dengan memakai perempuan sundal. Ini sangat memalukan!". Lelaki tampan itu menantang. "Kenapa?!, mereka jadi orang revolusioner yang terbaik. Saya tidak mengerti pemikiran Bung Ali yang sempit."
Lelaki itu menggelegar dengan suaranya, khas si Singa Podium. "Apakah Bung Ali pernah menanyakan kenapa saye mengumpulkan 670 orang perempuan lacur?!". "Saya menyadari, bahwa saya tidak akan dapat maju tanpa kekuatan. saya memerluka tenaga manusia, sekalipun tenaga perempuan. Bukan soal bermoral atau tidak bermoral. Tenaga mereka ampuh!". "Aku lebih memilih melepaskan anggota PNI yang lain, daripada para pelacur itu. Ambillah contoh Madamme Pompadour, pelacur yang namanya mahsyur dalam sejarah, Theroigne de Merricourt dan Barisan Roti-nya! siapa yang memulai !?. Perempuan lacur."
Ruapanya Ali Sastroamidjojo tidak tahu, bahwa setiap hari musuh-musuh Partai Nasional Indonesia datang bertama kepada gadis-gadis itu. Tak hanya termabuk dan menyerahkan uang, tetapi juga tanpa sadar menyerahkan informasi pada gadis-gadis lacur itu.Ali juga tidak memperoleh informasi bahwa gadis-gadis itu sengaja tidak menyogok agar dikenai hukuman penjara tujuh hari pasca razia oleh pemerintah. Semata-mata agar mereka kenal dan mampu berhubungan dengan para penegak hukum. Ali tidak tahu, siapa yang membuat opsir-opsir polisi pusing setelah ribut dengan istrinya, karena dikedipi dan disapa oleh pelacur di jalanan. Ali tidak juga tahu siapa yang berhasil menemukan mata-mata pemerintah dalam tubuh partai. Lagi-lagi Ali pun tidak mengetahui, siapa donatur terbesar Partai Nasional indonesia. Ali tidak tahu siapa mereka itu. Gadis-gadis itu donatur, tentara dan intelejen terkuat Soekarno, sekaligus donatur, tentara dan intelejen terkuat dalam sejarah perjuangan bangsa.
Selama enam bulan lamanya, gadis-gadis itu dilatih dalam sistem semi kaderisasi oleh Soekarno dengan jabatan "calon anggota". Mereka mungkin tidak memahami kursus-kursus politik, tapi mereka hadir selalu, agar para pejuang politik semata menjadi bersemangat dalam kursus. Mereka menyisihkan pendapatan mereka dengan persentase yang besar, untuk kas partai. Mereka merayu dengan semanis mungkin, agar para perwira mau membocorkan rencana-rencana rahasia pemerintah untuk PNI.
Mereka merasa sebagai bagian dari perjuangan. Mereka tidak bisa berjuang dengan orasi seperti Soekarno, tulisan tajam seperti Agus Salim, dengan pemogokan seperti Musso dan Alimin, maupun dengan senjata seperti para jawara di Banten. mereka berjuang dengan apa yang mereka bisa, rayuan, sentuhan dan tubuh mereka. Mereka mau dan bersemangat. Dan mereka bersama Soekarno mampu mengalahkan semua stigma, dengan tujuan yang jelas. Perjuangan untuk merdeka.
"Tak ada satu pun anggota partai nan gagah terhormat dari golongan laki-laki yang dapat melakukan tugas istimewa ini.". Soekarno.
Mungkin dibandingkan dengan wanita mulia angelic seperti Inggit Garnasih perjuangan mereka sangat tidak populis dan kalah hebat. Namun mereka ada ketika dibutuhkan. Melakukan apa yang mereka bisa. Menjadi keping kecil di mega-puzzle perjuangan bangsa Indonesia. Tanpa mereka, tidak ada pergerakan PNI. Tanpa ada pergerakan PNI tidak ada Indonesia Menggugat. Tanpa Indonesia Menggugat tidak ada konsep Indonesia merdeka. Tanpa konsep, tidak ada Indonesia merdeka. Sesimpel itu menurut saya.
Soekarno, Titiek Puspa, dan Iwan Fals mungkin hanya secuil dari kita yang mampu menangkap mereka bukanlah sebagai kupu-kupu, tetapi manusia kerdil. Manusia yang dikerdilkan oleh segala himpitan.
Dan kini, mereka pun masih berjuang. Mengisi perut yang lapar, menyekolahkan anak, menyetor kepada preman legal dan ilegal, memuaskan kawan-kawan kita. Dan hanya manusia yang berjuang serumit itu. Kupu-kupu tidak.
"Kehadiran pelacuran tidak hanya menjadi sebuah gambaran degradasi moral sejumlah wanita, namun juga mempertontonkan struktur masyarakat yang tidak sempurna, toh, setiap manusia hadir di dunia ini adalah sebagai mahluk yang suci. Kondisi masyarakat turut mengkondisikan jutaan wanita memilih menjadi seorang pelacur setidaknya menjadikan kejalangan sebagai pilihan yang mungkin. Saat kemiskinan, kesenjangan penguasaan materi ada, akan selalu menumbuhkan pelacuran yang sesungguhnya merupakan bentuk lain dari eksploitasi. Oleh karena itu, pelacuran tidak akan mungkin dilenyapkan selama masih ada orang yang membutuhkannya serta ketika memasukinya menjadi sebuah pilihan yang rasional terutama bagi para wanita yang mengharapkan kehidupan yang lebih baik."
Moan Sipayung
Sumber :
Tim Pusat Penelitian dan Pengembangan Kebudayaan. 2007. Pelacuran Dalam Kajian kebudayaan. Departemen Kebudayaan dan Pariwisata. Hal.X.
Traktor Lubis. 2010. Pelacur Cinta (Hubungan Julia Robert, Evita dan Dewi Soekarno). Dimuat di traktor.co.cc. Diakses 24 Mei 2011.
Cindy Adams. 1966. Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat. Gunung Agung. Hal 116-119.
Moan Sipayung. 2007. Fenomena Pelacuran. Dimuat dihttp://moanbb.blogspot.com/2007/06/fenomena-pelacuran.html. Diakses 24 Mei 2011.
Wakhudin. 2006. Proses Terjadinya Degradasi Moral Pada Pelacur dan Solusinya (Thesis). Bandung. Program Studi pendidikan Umum Sekolah Pascasarjana Universitas Pendidikan Indonesia.
Tim Telaga Bakti Nusantara. 1997. Sejarah Perkeretaapian Indonesia Jilid 1. Bandung. CV Angkasa dan APKA.Hal.66.
Tuesday, December 28, 2010
Kenapa Orang Dari Tatar Sunda Tidak Ada yang Jadi Presiden? (Hubungan Sunda-Jawa)
Konon menurut ramalan dari Joyoboyo (raja Kadiri yang memerintah sekitar tahun 1135-1157), bakal pemimpin negeri ini adalah memiliki initial nama “notonegoro” atau “no-to-no-go-ro”, bila diartikan secara sederhana menunjukan bahwa yang bakal menjadi presiden itu “harus” orang Jawa.
Hal ini nampaknya tidak berlebihan bila ternyata yang jadi presiden sebagai pemenang pemilu adalah: “soekarno”, “soeharto” dan “yudoyono”, adapun habibie, gusdur dan megawati, adalah presiden yang dipilih akibat dari peralihan saja.
Namun demikian hampir dari semuanya mereka adalah berasal dari orang Jawa, hal ini tentunya tidak berlebihan karena menurut data statistik pun jumlah penduduk Indonesia itu hampir separuhnya lebih adalah suku Jawa, sehingga peluang / probabilitasnya sangat besar dibandingkan yg lainnya, apalagi sekarang dipilih secara langsung oleh rakyat.
Di balik itu semua, bila melihat kembali ke Sejarah Bangsa nampaknya hampir seluruh Pemimpin Bangsa ini cara kepemimpinannya merujuk kepada falsafah dari Gadjah Mada, yang terkenal dengan “Sumpah Palapa” nya (tahun 1331), dan gaya kepemimpinannya pun nampaknya tidak lebihnya adalah merupakan ‘reinkarnasi’ dari cara kepemimpinan seorang Patih Gadjah Mada.
Bila dilihat secara garis besar, kaidah kepemimpinan Gadjah Mada dapat diklasifikasikan menjadi tiga dimensi, yaitu:Spiritual, Moral, dan Manajerial.
Dimensi Spiritual terdiri dari tiga prinsip, yaitu:
- 1. Wijaya: tenang, sabar, bijaksana;
- 2. Masihi Samasta Bhuwana: mencintai alam semesta; dan
- 3. Prasaja: hidup sederhana.
Dimensi Moral terdiri dari enam prinsip, yaitu:
- 4. Mantriwira: berani membela dan menegakkan kebenaran dan keadilan;
- 5. SarJawa Upasama: rendah hati;
- 6. Tan Satrsna: tidak pilih kasih;
- 7. Sumantri: tegas, jujur, bersih, berwibawa;
- 8. Sih Samasta Bhuwana: dicintai segenap lapisan masyarakat dan mencintai rakyat;
- 9. Nagara Gineng Pratijna: mengutamakan kepentingan negara di atas kepentingan pribadi, golongan, dan keluarga.
Dimensi Manajerial terdiri dari sembilan prinsip, yaitu:
- 10. Natangguan: Mendapat dan menjaga kepercayaan dari masyarakat;
- 11. Satya Bhakti Prabhu: loyal dan setia kepada nusa dan bangsa;
- 12. Wagmiwag: pandai bicara dengan sopan;
- 13. Wicaksaneng Naya: pandai diplomasi, strategi, dan siasat;
- 14. Dhirotsaha: rajin dan tekun bekerja dan mengabdi untuk kepentingan umum;
- 15. Dibyacitta: lapang dada dan bersedia menerima pendapat orang lain;
- 16. Nayaken Musuh: menguasai musuh dari dalam dan dari luar;
- 17. Ambek Paramartha: pandai menentukan prioritas yang penting;
- 18. Waspada Purwartha: selalu waspada dan introspeksi untuk melakukan perbaikan.
Prinsip-prinsip tersebut dijadikan sebagai sumber dari filsafat dan way of life yang diyakininya, dan mencerminkan spiritualitas Jawa yang bersifat holistic spirituality, yang memberikan inspirasi pandangan hidup pada Gadjah Mada.
Kenapa Orang Tatar Sunda Tidak Mau dibilang Jawa ?
Ketika saya bepergian keluar negara dari Indonesia, atau bahkan pergi keluar pulau Jawa seperti ke Bali, Sumatera atau Kalimantan, orang akan memanggil saya sebagai orang Jawa. Itu dikarenakan memiliki KTP Bandung yang memang terletak di Pulau Jawa,
Padahal, bagi masyarakat di pulau Jawa bagian Barat atau lebih dikenal dengan propinsi Jawa Barat, mereka tidak bisa disebut sebagai ‘orang Jawa’ atau berasal dari ‘suku Jawa’. Penduduk di provinsi ini lebih dikenal dengan sebutan ‘orang Sunda’ atau ‘suku Sunda’, sementara daerahnya sering terkenal dengan sebutan ‘Tatar Sunda’, PaSundan, atau ‘Bumi Parahyangan’ dengan Bandung sebagai pusatnya.
Kultur Budaya
Suku Sunda atau masyarakat Sunda merupakan mayoritas penduduk Jawa Barat. Dalam catatan sejarah, pada tahun 1851 suku Sunda sudah merupakan penduduk terbesar di Jawa Barat yang berjumlah 786.000 jiwa. Pada tahun 2008, suku Sunda diperkirakan berjumlah lebih kurang 34 juta jiwa.
Secara fisik sulit dibedakan antara orang Sunda dan orang Jawa yang sama-sama mendiami Pulau Jawa. Perbedaan yang nampak sebagai penduduk Pulau Jawa, akan tampak jelas ditinjau dari segi kebudayaannya, termasuk bahasa, jenis makanan yang disukai dan kesenian yang dimiliki.
Berbeda dengan ‘suku Jawa’ yang mayoritas hidup di daerah Jawa Tengah, Yogyakarta dan Jawa Timur, suku Sunda tidak menggunakan bahasa Jawa tetapi bahasa ‘Sunda’.
Bahasa Jawa dan bahasa Sunda jelas memiliki perbedaan yang signifikan. Selain memang mempunyai perbedaan ejaan, pengucapan dan arti, bahasa Jawa lebih dominant dengan penggunaan vocal ‘O’ diakhir sebuah kata baik itu dalam pemberian nama orang atau nama tempat, seperti Sukarno, Suharto, Yudhoyono, Purwokerto, Solo dan Ponorogo. Sementara bahasa Sunda lebih dominant berakhiran huruf ‘A’ seperti Nana Sutresna, Wiranata, Iskandar Dinata, Purwakarta dan Majalaya.
Bagi masyarakat Indonesia pada umumnya, suku Sunda dikenal sebagai masyarakat yang senang memakan sayuran atau daun-daunan sebagai ‘lalaban’ (sayuran yang dimakan mentah-mentah dengan sambal). Bagi orang Sunda, dedaunan dan sambal merupakan salah satu menu utama setiap makan selain tentunya lauk pauk lain seperti ikan dan daging.
Selain kebudayaan dan makanan, salah satu karakteristik orang Sunda adalah terkenal dengan karakternya yang lembut, tidak ngotot dan tidak keras. Mereka bersikap baik terhadap kaum pendatang atau dalam bahasa Sunda ‘someaah hade ka semah’.
Karena sifat inilah tak heran kalau penetrasi agam Islam ke daerah Sunda ketika pertama kali Islam datang, sangat mudah diterima oleh suku ini. Sebagaimana mayoritas penduduk Indonesia, Islam merupakan agama mayoritas orang Sunda. Yang membedakannya, kelekatan (attachment) orang Sunda terhadap Islam dipandang lebih kuat dibanding dengan orang Jawa pada umumnya. Meskipun tentunya tidak sekuat orang Madura dan Bugis di Makassar.
Karena karakternya yang lembut banyak orang berasumsi bahwa orang Sunda ‘kurang fight’, kurang berambisi dalam menggapai jabatan. Mereka mempunyai sifat ‘mengalah’ daripada harus bersaing dalam memperebutkan suatu jabatan. Tidak heran kalau dalam sejarah Indonesia, kurang sekali tokoh-tokoh Sunda yang menjadi pemimpin di tingkat Nasional dibandingkan dengan Orang Jawa.
Contohnya, tidak ada satupun presiden Indonesia yang berasal dari suku Sunda, bahkan dari sembilan orang wakil presiden yang pernah menjabat sejak zaman Presiden pertama Soekarno sampai sekarang Presiden Yudhoyono, hanya seorang yang berasal dari suku Sunda yaitu Umar Wirahadikusuma yang pernah menjabat sebagai wakil presiden di zaman Presiden Soeharto.
Bila dilihat dari unsur sosial dan budaya seperti tersebut di atas, orang dari tatar Sunda memang tidak sama dengan Jawa, sehingga dengan demikian walaupun tinggal di satu pulau, tetap saja tidak bisa disamakan. Namun nampaknya faktor alam yang “lohjinawi” itulah yang membentuk karakter dan kepribadian seperti itu, sehingga membentuk kultur budaya dan perilaku yang membedakan dengan orang Jawa.
Perang Bubat.
Adalah perang yang kemungkinan pernah terjadi pada masa pemerintahan raja Majapahit, Hayam Wuruk dengan Mahapatih Gadjah Mada. Persitiwa ini melibatkanMahapatih Gadjah Mada dengan Prabu Maharaja Linggabuana dari Kerajaan Sunda diPesanggrahan Bubat pada abad ke-14 di sekitar tahun 1360 M.
Peristiwa Perang Bubat diawali dari niat Prabu Hayam Wuruk yang ingin memperistri putri Dyah Pitaloka Citraresmi dari Negeri Sunda. Konon ketertarikan Hayam Wuruk terhadap putri tersebut karena beredarnya lukisan sang putri di Majapahit; yang dilukis secara diam-diam oleh seorang seniman pada masa itu, bernama Sungging Prabangkara.
Namun catatan sejarah Pajajaran yang ditulis Saleh Danasasmita dan Naskah Perang Bubat yang ditulis Yoseph Iskandar menyebutkan bahwa niat pernikahan itu adalah untuk mempererat tali persaudaraan yang telah lama putus antara Majapahit dan Sunda. Raden Wijaya yang menjadi pendiri kerajaan Majapahit, dianggap keturunan Sunda dari Dyah Lembu Tal dan suaminya yaitu Rakeyan Jayadarma, raja kerajaan Sunda. Hal ini juga tercatat dalam Pustaka Rajyatajya i Bhumi Nusantara parwa II sarga 3. Dalam Babad Tanah Jawi, Raden Wijaya disebut pula dengan nama Jaka Susuruh dari Pajajaran.
Hayam Wuruk memutuskan untuk memperistri Dyah Pitaloka. Atas restu dari keluarga kerajaan, Hayam Wuruk mengirimkan surat kehormatan kepada Maharaja Linggabuana untuk melamarnya. Upacara pernikahan dilangsungkan di Majapahit. Pihak dewan kerajaan Negeri Sunda sendiri sebenarnya keberatan, terutama Mangkubuminya yaitu Hyang Bunisora Suradipati. Ini karena menurut adat yang berlaku di Nusantara pada saat itu, tidak lazim pihak pengantin perempuan datang kepada pihak pengantin lelaki. Selain itu ada dugaan bahwa hal tersebut adalah jebakan diplomatik Majapahit yang saat itu sedang melebarkan kekuasaannya.
Linggabuana memutuskan untuk tetap berangkat ke Majapahit, karena rasa persaudaraan yang sudah ada dari garis leluhur dua negara tersebut. Berangkatlah Linggabuana bersama rombongan Sunda ke Majapahit, dan diterima serta ditempatkan di Pesanggrahan Bubat.
Melihat Raja Sunda datang ke Bubat beserta permaisuri dan putri Dyah Pitaloka dengan diiringi sedikit prajurit, maka timbul niat lain dari Mahapatih Gadjah Mada yaitu untuk menguasai Kerajaan Sunda, sebab untuk memenuhi Sumpah Palapa yang dibuatnya tersebut, maka dari seluruh kerajaan di Nusantara yang sudah ditaklukkan hanya kerajaan Sundalah yang belum dikuasai Majapahit. Dengan makksud tersebut dibuatlah alasan oleh Gadjah Mada yang menganggap bahwa kedatangan rombongan Sunda di Pesanggrahan Bubat sebagai bentuk penyerahan diri Kerajaan Sunda kepada Majapahit, sesuai dengan Sumpah Palapa yang pernah ia ucapkan pada masa sebelum Hayam Wuruk naik tahta. Ia mendesak Hayam Wuruk untuk menerima Dyah Pitaloka bukan sebagai pengantin, tetapi sebagai tanda takluk Negeri Sunda dan mengakui superioritas Majapahit atas Sunda di Nusantara. Hayam Wuruk sendiri menurut Kidung Sundayana disebutkan bimbang atas permasalah tersebut, karena Gadjah Mada adalah Mahapatih yang diandalkan Majapahit pada saat itu.
Kemudian terjadi insiden perselisihan antara utusan Linggabuana dengan Gadjah Mada. Perselisihan ini diakhiri dengan dimaki-makinya Gadjah Mada oleh utusan Negeri Sunda yang terkejut bahwa kedatangan mereka hanya untuk memberikan tanda takluk dan mengakui superioritas Majapahit, bukan karena undangan sebelumnya. Namun Gadjah Mada tetap dalam posisi semula.
Belum lagi Hayam Wuruk memberikan putusannya, Gadjah Mada sudah mengerahkan pasukannya (Bhayangkara) ke Pesanggrahan Bubat dan mengancam Linggabuana untuk mengakui superioritas Majapahit. Demi mempertahankan kehormatan sebagai ksatria Sunda, Linggabuana menolak tekanan itu. Terjadilah peperangan yang tidak seimbang antara Gadjah Mada dengan pasukannya yang berjumlah besar, melawan Linggabuana dengan pasukan pengawal kerajaan (Balamati) yang berjumlah kecil serta para pejabat dan menteri kerajaan yang ikut dalam kunjungan itu. Peristiwa itu berakhir dengan gugurnya Linggabuana, para menteri dan pejabat kerajaan Sunda, serta putri Dyah Pitaloka.
Hayam Wuruk menyesalkan tindakan ini dan mengirimkan utusan (darmadyaksa) dari Bali – yang saat itu berada di Majapahit untuk menyaksikan pernikahan antara Hayam Wuruk dan Dyah Pitaloka – untuk menyampaikan permohonan maaf kepada Mangkubumi Hyang Bunisora Suradipati yang menjadi pejabat sementara raja Negeri Sunda, serta menyampaikan bahwa semua peristiwa ini akan dimuat dalam Kidung Sunda atau Kidung Sundayana (di Bali dikenal sebagai Geguritan Sunda) agar diambil hikmahnya.
Akibat peristiwa Bubat ini, dikatakan dalam catatan tersebut bahwa hubungan Hayam Wuruk dengan Gadjah Mada menjadi renggang. Gadjah Mada sendiri tetap menjabat Mahapatih sampai wafatnya (1364). Akibat peristiwa ini pula, di kalangan kerabat Negeri Sunda diberlakukan peraturan esti larangan ti kaluaran, yang isinya diantaranya tidak boleh menikah dari luar lingkungan kerabat Sunda, atau sebagian lagi mengatakan tidak boleh menikah dengan pihak timur negeri Sunda (Majapahit).
Dengan demikian nampaknya kejadian seperti tersebut di atas telah membuat orang dari tatar Sunda, tidak menerima kebijakan politik dari Gadjah Mada tersebut, walau tujuannya untuk mempersatukan kerajaan-kerajaan di Nusantara itu, namun caranya seperti itu ‘tidak elegant’ dan telah melukai harkat martabat dan harga diri orang Sunda, sehingga sampai kini di wilayah tatar Sunda itu tidak ada nama Jalan Gadjah Mada atau Hayam Wuruk.
Nah…., bila kembali kepada pertanyaan di atas:”Kenapa Orang Dari Tatar Sunda Tidak Ada yang Jadi Presiden?“ nampaknya memang kalau mau jadi Pemimpin Negeri di negeri ini, harus berani seperti Gadjah Mada tersebut, sehingga wajar saja saat ini Partai-Partai / Golongan Politik itu tidak lebihnya seperti “reinkarnasi” dari jaman kerajaan Majapahit,kawan dapat menjadi lawan demi kekuasaaan !
Namun bukan berarti orang Sunda itu tidak bisa jadi pemimpin, akan tetapi kebanyakan dari mereka tidak bisa menerima norma-norma bila harus seperti Gadjah Mada itu yang cenderung ‘licik’ dan ‘menghalalkan segala cara’ demi kekuasan. Hal itulah rupanya yang membuat orang dari tatar Sunda tidak tertarik untuk menjadi pemimpin di negeri ini karena tidak sesuai dengan tabiat dan norma-norma kehidupannya.
Adapun selama ini orang dari tatar Sunda itu cocoknya hanya jadi pemimpin untuk di daerahnya sendiri, walau sebenarnya menurut sejarah tersebut di atas, kerjaan Sunda Padjadjaran adalah Kerajaan Besar yang memliki ‘Komara’ dan‘Wibawa’ dan satu-satunya kerajaan yang tidak terkalahkan oleh Majapahit !
Akan tetapi rupanya hal itu pada saat ini sudah tidak menjadi keharusan lagi, karena sekarang Partai Politiklah yang menentukan untuk menjadi Pemimpin itu, sebagai salah satu contohnya di Kab.Sumedang, yang konon adalah merupakan cikal bakal kerajaan Sunda Padjadjaran, kini malah menjadi satu-satunya daerah di Jawa Barat yang ‘radja’ nya bukan lagi orang dari daerah tempatan. Hal ini nampaknya pengaruh unsur poltik lebih dominan dalam kehidupan masyarakatnya sehingga norma-norma Budaya Sunda itu terkalahkan oleh kepentingan politik dan kekuasaan.
Namun bagaimanapun seharusnya “Bangsa yang baik itu adalah bangsa yang menghargai Sejarah dan Budayanya”, sehingga dengan demikian nilai-nilai luhur kultur budaya tersebut tidak hilang ditelan jaman, dan tentunya hal itu tidak bisa hanya dijadikan selogan “nyandang kahayang” namun harus dapat diwujudkannya menjadi kenyataan, sehingga“dina budaya urang napak, tina budaya urang ngapak” dapat tercapai !
Semoga hal ini dapat menjadi pemacu semangat generasi muda selanjutnya untuk “BANGKIT” kembali dan tidak terbuai oleh jebakan politik yang cenderung menghalalkan segala cara. SEMOGA…!
Ditulis oleh Urang Wado, (Ir.H.Surahman,M.Tech,M.Eng,MBA)
Wednesday, September 01, 2010
Sejarah Konfrontasi Indonesia VS Malaysia


Konfrontasi Indonesia-Malaysia atau yang lebih dikenal sebagai Konfrontasi saja adalah sebuah perang mengenai masa depan Malaya, Brunei, Sabah dan Sarawak yang terjadi antara Federasi Malaysia dan Indonesia pada tahun 1962-1966.Perang ini berawal dari keinginan Federasi Malaya lebih dikenali sebagai Persekutuan Tanah Melayu pada tahun 1961 untuk menggabungkan Brunei, Sabah dan Sarawak kedalam Federasi Malaysia yang tidak sesuai dengan perjanjian Manila Accord Wikisource-logo.svg oleh karena itu Keinginan tersebut ditentang oleh Presiden Soekarno yang menganggap pembentukan Federasi Malaysia yang sekarang dikenal sebagai Malaysia sebagai "boneka Inggris" merupakan kolonialisme dan imperialisme dalam bentuk baru serta dukungan terhadap berbagai gangguan keamanan dalam negeri dan pemberontakan di Indonesia.
Pelanggaran perjanjian internasional konsep THE MACAPAGAL PLAN antara lain melalui perjanjian Manila Accord Wikisource-logo.svg tanggal 31 Juli 1963, Manila Declaration Wikisource-logo.svg tanggal 3 Agustus 1963, Joint Statement Wikisource-logo.svg tanggal 5 Agustus 1963[4] mengenai dekolonialisasi Wikisource-logo.svg yang harus mengikut sertakan rakyat Sarawak dan Sabah yang status kedua wilayah tersebut sampai sekarang masih tercatat pada daftar Dewan Keamanan PBB.[5] sebagai wilayah Non-Self-Governing Territories
Latar Belakang
Pada 1961, Kalimantan dibagi menjadi empat administrasi. Kalimantan, sebuah provinsi di Indonesia, terletak di selatan Kalimantan. Di utara adalah Kerajaan Brunei dan dua koloni Inggris; Sarawak dan Borneo Utara, kemudian dinamakan Sabah. Sebagai bagian dari penarikannya dari koloninya di Asia Tenggara, Inggris mencoba menggabungkan koloninya di Kalimantan dengan Semenanjung Malaya, Federasi Malaya dengan membentuk Federasi Malaysia.
Rencana ini ditentang oleh Pemerintahan Indonesia; Presiden Soekarno berpendapat bahwa Malaysia hanya sebuah boneka Inggris, dan konsolidasi Malaysia hanya akan menambah kontrol Inggris di kawasan ini, sehingga mengancam kemerdekaan Indonesia. Filipina juga membuat klaim atas Sabah, dengan alasan daerah itu memiliki hubungan sejarah dengan Filipina melalui Kesultanan Sulu.
Di Brunei, Tentara Nasional Kalimantan Utara (TNKU) memberontak pada 8 Desember 1962. Mereka mencoba menangkap Sultan Brunei, ladang minyak dan sandera orang Eropa. Sultan lolos dan meminta pertolongan Inggris. Dia menerima pasukan Inggris dan Gurkha dari Singapura. Pada 16 Desember, Komando Timur Jauh Inggris (British Far Eastern Command) mengklaim bahwa seluruh pusat pemberontakan utama telah diatasi, dan pada 17 April 1963, pemimpin pemberontakan ditangkap dan pemberontakan berakhir.
Filipina dan Indonesia resminya setuju untuk menerima pembentukan Federasi Malaysia apabila mayoritas di daerah yang hendak dilakukan dekolonial memilihnya dalam sebuah referendum yang diorganisasi oleh PBB. Tetapi, pada 16 September, sebelum hasil dari pemilihan dilaporkan. Malaysia melihat pembentukan federasi ini sebagai masalah dalam negeri, tanpa tempat untuk turut campur orang luar, tetapi pemimpin Indonesia melihat hal ini sebagai perjanjian Manila Accord Wikisource-logo.svg yang dilanggar dan sebagai bukti kolonialisme dan imperialisme Inggris.
“ Sejak demonstrasi anti-Indonesia di Kuala Lumpur, ketika para demonstran menyerbu gedung KBRI, merobek-robek foto Soekarno, membawa lambang negara Garuda Pancasila ke hadapan Tunku Abdul Rahman—Perdana Menteri Malaysia saat itu—dan memaksanya untuk menginjak Garuda[6], amarah Soekarno terhadap Malaysia pun meledak. ”
Demonstrasi anti-Indonesia di Kuala Lumpur yang berlangsung tanggal 17 September 1963, berlaku ketika para demonstran yang sedang memuncak marah terhadap Presiden Sukarno yang melancarkan konfrontasi terhadap Malaysia[7]an juga kerana serangan pasukan militer tidak resmi Indonesia terhadap Malaysia. Ini berikutan pengumuman Menteri Luar Negeri Indonesia Soebandrio bahwa Indonesia mengambil sikap bermusuhan terhadap Malaysia pada 20 Januari 1963. Selain itu pencerobohan sukarelawan Indonesia (sepertinya pasukan militer tidak resmi) mulai memasuki Sarawak dan Sabah untuk menyebar propaganda dan melaksanakan penyerangan dan sabotase pada 12 April berikutnya.
Soekarno yang murka karena hal itu mengutuk tindakan demonstrasi anti-Indonesian yang menginjak-injak lambang negara Indonesia[8] dan ingin melakukan balas dendam dengan melancarkan gerakan yang terkenal dengan nama Ganyang Malaysia. Soekarno memproklamirkan gerakan Ganyang Malaysia melalui pidato beliau yang amat bersejarah, berikut ini:
“
Kalau kita lapar itu biasa
Kalau kita malu itu juga biasa
Namun kalau kita lapar atau malu itu karena Malaysia, kurang ajar!
Kerahkan pasukan ke Kalimantan hajar cecunguk Malayan itu!
Pukul dan sikat jangan sampai tanah dan udara kita diinjak-injak oleh Malaysian keparat itu
Doakan aku, aku kan berangkat ke medan juang sebagai patriot Bangsa, sebagai martir Bangsa dan sebagai peluru Bangsa yang tak mau diinjak-injak harga dirinya.
Serukan serukan keseluruh pelosok negeri bahwa kita akan bersatu untuk melawan kehinaan ini kita akan membalas perlakuan ini dan kita tunjukkan bahwa kita masih memiliki Gigi yang kuat dan kita juga masih memiliki martabat.
Yoo...ayoo... kita... Ganjang...
Ganjang... Malaysia
Ganjang... Malaysia
Bulatkan tekad
Semangat kita badja
Peluru kita banjak
Njawa kita banjak
Bila perlu satoe-satoe!
Soekarno.
”
Perang
Pada 20 Januari 1963, Menteri Luar Negeri Indonesia Soebandrio mengumumkan bahwa Indonesia mengambil sikap bermusuhan terhadap Malaysia. Pada 12 April, sukarelawan Indonesia (sepertinya pasukan militer tidak resmi) mulai memasuki Sarawak dan Sabah untuk menyebar propaganda dan melaksanakan penyerangan dan sabotase. Tanggal 3 Mei 1963 di sebuah rapat raksasa yang digelar di Jakarta, Presiden Sukarno mengumumkan perintah Dwi Komando Rakyat (Dwikora) yang isinya:
* Pertinggi ketahanan revolusi Indonesia
* Bantu perjuangan revolusioner rakyat Malaya, Singapura, Sarawak dan Sabah, untuk menghancurkan Malaysia
Pada 27 Juli, Sukarno mengumumkan bahwa dia akan meng-"ganyang Malaysia". Pada 16 Agustus, pasukan dari Rejimen Askar Melayu DiRaja berhadapan dengan lima puluh gerilyawan Indonesia.
Meskipun Filipina tidak turut serta dalam perang, mereka memutuskan hubungan diplomatik dengan Malaysia.
Federasi Malaysia resmi dibentuk pada 16 September 1963. Brunei menolak bergabung dan Singapura keluar di kemudian hari.
Di sepanjang perbatasan di Kalimantan, terjadi peperangan perbatasan; pasukan Indonesia dan pasukan tak resminya mencoba menduduki Sarawak dan Sabah, dengan tanpa hasil.
komando aksi sukarelawan
Pada 1964 pasukan Indonesia mulai menyerang wilayah di Semenanjung Malaya. Di bulan Mei dibentuk Komando Siaga yang bertugas untuk mengkoordinir kegiatan perang terhadap Malaysia (Operasi Dwikora). Komando ini kemudian berubah menjadi Komando Mandala Siaga (Kolaga). Kolaga dipimpin oleh Laksdya Udara Omar Dani sebagai Pangkolaga. Kolaga sendiri terdiri dari tiga Komando, yaitu Komando Tempur Satu (Kopurtu) berkedudukan di Sumatera yang terdiri dari 12 Batalyon TNI-AD, termasuk tiga Batalyon Para dan satu batalyon KKO. Komando ini sasaran operasinya Semenanjung Malaya dan dipimpin oleh Brigjen Kemal Idris sebaga Pangkopur-I. Komando Tempur Dua (Kopurda) berkedudukan di Bengkayang, Kalimantan Barat dan terdiri dari 13 Batalyon yang berasal dari unsur KKO, AURI, dan RPKAD. Komando ini dipimpin Brigjen Soepardjo sebagai Pangkopur-II. Komando ketiga adalah Komando Armada Siaga yang terdiri dari unsur TNI-AL dan juga KKO. Komando ini dilengkapi dengan Brigade Pendarat dan beroperasi di perbatasan Riau dan Kalimantan Timur.
Di bulan Agustus, enam belas agen bersenjata Indonesia ditangkap di Johor. Aktivitas Angkatan Bersenjata Indonesia di perbatasan juga meningkat. Tentera Laut DiRaja Malaysia mengerahkan pasukannya untuk mempertahankan Malaysia. Tentera Malaysia hanya sedikit saja yang diturunkan dan harus bergantung pada pos perbatasan dan pengawasan unit komando. Misi utama mereka adalah untuk mencegah masuknya pasukan Indonesia ke Malaysia. Sebagian besar pihak yang terlibat konflik senjata dengan Indonesia adalah Inggris dan Australia, terutama pasukan khusus mereka yaitu Special Air Service(SAS). Tercatat sekitar 200 pasukan khusus Indonesia (Kopassus) tewas dan 2000 pasukan khusus Inggris/Australia (SAS) juga tewas setelah bertempur di belantara kalimantan (Majalah Angkasa Edisi 2006).
Pada 17 Agustus pasukan terjun payung mendarat di pantai barat daya Johor dan mencoba membentuk pasukan gerilya. Pada 2 September 1964 pasukan terjun payung didaratkan di Labis, Johor. Pada 29 Oktober, 52 tentara mendarat di Pontian di perbatasan Johor-Malaka dan membunuh pasukan Resimen Askar Melayu DiRaja dan Selandia Baru dan menumpas juga Pasukan Gerak Umum Kepolisian Kerajaan Malaysia di Batu 20, Muar, Johor.
Ketika PBB menerima Malaysia sebagai anggota tidak tetap. Sukarno menarik Indonesia dari PBB pada tanggal 20 Januari 1965 dan mencoba membentuk Konferensi Kekuatan Baru (Conference of New Emerging Forces, Conefo) sebagai alternatif.
Sebagai tandingan Olimpiade, Soekarno bahkan menyelenggarakan GANEFO (Games of the New Emerging Forces) yang diselenggarakan di Senayan, Jakarta pada 10-22 November 1963. Pesta olahraga ini diikuti oleh 2.250 atlet dari 48 negara di Asia, Afrika, Eropa dan Amerika Selatan, serta diliput sekitar 500 wartawan asing.
Pada Januari 1965, Australia setuju untuk mengirimkan pasukan ke Kalimantan setelah menerima banyak permintaan dari Malaysia. Pasukan Australia menurunkan 3 Resimen Kerajaan Australia dan Resimen Australian Special Air Service. Ada sekitar empat belas ribu pasukan Inggris dan Persemakmuran di Australia pada saat itu. Secara resmi, pasukan Inggris dan Australia tidak dapat mengikuti penyerang melalu perbatasan Indonesia. Tetapi, unit seperti Special Air Service, baik Inggris maupun Australia, masuk secara rahasia (lihat Operasi Claret). Australia mengakui penerobosan ini pada 1996.
Pada pertengahan 1965, Indonesia mulai menggunakan pasukan resminya. Pada 28 Juni, mereka menyeberangi perbatasan masuk ke timur Pulau Sebatik dekat Tawau, Sabah dan berhadapan dengan Resimen Askar Melayu Di Raja dan Kepolisian North Borneo Armed Constabulary.
Pada 1 Juli 1965, militer Indonesia yang berkekuatan kurang lebih 5000 orang melabrak pangkalan Angkatan Laut Malaysia di Semporna. Serangan dan pengepungan terus dilakukan hingga 8 September namun gagal. Pasukan Indonesia mundur dan tidak penah menginjakkan kaki lagi di bumi Malaysia. Peristiwa ini dikenal dengan "Pengepungan 68 Hari" oleh warga Malaysia.
Akhir konfrontasi
Menjelang akhir 1965, Jendral Soeharto memegang kekuasaan di Indonesia setelah berlangsungnya G30S/PKI. Oleh karena konflik domestik ini, keinginan Indonesia untuk meneruskan perang dengan Malaysia menjadi berkurang dan peperangan pun mereda.
Pada 28 Mei 1966 di sebuah konferensi di Bangkok, Kerajaan Malaysia dan pemerintah Indonesia mengumumkan penyelesaian konflik. Kekerasan berakhir bulan Juni, dan perjanjian perdamaian ditandatangani pada 11 Agustus dan diresmikan dua hari kemudian.
Rekaman Pidato Bung Karno Ganyang Malaysia : http://www52.indowebster.com/67d1dcfe28f601bd5bfcaac1b7a52b99.mp3
Sumber : http://id.wikipedia.org/wiki/Konfrontasi_Indonesia-Malaysia